Selasa, 08 Mei 2012

Alon-Alon Kelakon Chapter 1 : The Born of Superhero

         Ada penelitian yang menyebutkan bahwa dalam keadaan terdesak bahaya antara hidup dan mati, manusia dapat mengeluarkan potensinya jauh lebih besar dari batas keadaan normal, dengan kata lain "menjadi seorang superhero." Sialnya adalah saat ini aku berada dalam keadaan yang aku sebutkan tadi, SUPERHERO?! Bukan bukan... tapi keadaan yang antara hidup dan mati. Aku dan adik perempuanku satu-satunya baru saja keluar dari warung lotek pinggiran jalan, saat sebuah mobil merah yang tampak kinclong dan mahal menghampiri kami dengan kecepatan tinggi dan sepertinya tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Belum sempat aku berteriak karena shock, tiba-tiba NGIIINGG!! Terdengar suara melengking yang memekakkan telingaku, argh... kupejamkan mataku karena kesakitan. Saat mataku terbuka, suasana di sekitarku terasa begitu berbeda, seolah mataku mengembun, segala sesuatunya terlihat lebih terang dan sedikit buram, apakah aku sudah dibelai mobil merah tadi dan beranjak ke dunia lain? Ternyata tidak, aku masih melihat mobil merah sial itu 3-4 meter di hadapanku, hanya saja... lebih lambat, jauh lebih lambat, mobil itu, orang-orang di sekitarku, burung yang lewat beberapa meter di atasku, semua terasa bergerak lambat, sangat lambat. Aku melirik ke sebelahku, wajah panik adik perempuanku ternyata manis juga, dan seperti yang lain, dia pun bergerak lambat seperti film yang sedang dislow motion berkali lipat. Baiklah!! Kalau begini aku dan adikku pasti bisa menghindar dari mobil merah itu (pikirku), tapi saat aku hendak bergerak, tubuhku terasa begitu beraaaaattt... aku mengeluarkan seluruh tenagaku, dan pada akhirnya... tetap saja hanya bisa bergerak lambat seperti yang lain, sial.

         Ada 3 pilihan yang terlintas di otakku dalam keadaan seperti ini :
1. Aku bisa melompat sekuat tenagaku, walaupun pada akhirnya hanya bisa bergerak secepat siput, tapi aku yakin aku akan selamat.
2. Aku bisa mendorong adikku dan memanfaatkan tenaga pantulannya untuk melompat ke arah sebaliknya seperti di film-film kungfu, tapi kalau gagal kami akan tertabrak berdua, dalam keadaan bergaya ala kungfu.
3. Atau aku dorong adikku saja agar dia selamat dan sepertinya aku bakal disenggol tuh mobil.
Dan pada akhirnya, pilihan yang beruntung untuk kukabulkan adalah yang terakhir, aku segera mendorong adikku yang mukanya masih sibuk monyong-monyong gara-gara panik, lucu juga melihat dia yang tersungkur karena kudorong dalam gerak lambat. Selesai aksi dorongan pertama pada kecelakaan, akupun mengusahakan sesuatu untuk menyelamatkan diriku, aku berusaha untuk menggeser pinggulku sekuat tenaga agar tidak tertabrak, geser, geser, geseeerr... ah sial, ternyata ngga lucu melihat pinggul sendiri terserempet mobil dalam kecepatan lambat, dan dalam sekejap semua kembali seperti semula, dunia berputar-putar cepat di mataku, aku melihat ada adikku lagi teriak-teriak, eh itu warung tempatku makan lotek tadi, banyak orang keluar dari tuh warung, terasa sedikit sakit di pinggul, dan semua gelap pada akhirnya. 

         Entah sejak kapan aku tersadar dan mulai berpikir, kugerakkan bola mataku berkeliling ruangan, tapi koq gelap, sapa yang matiin lampu sih? Badanku rasanya ringan banget, seperti melayang di atas awan, ngg... lebih tepatnya aku ngga bisa ngrasain badanku sih. Beberapa menit kemudian, aku melihat seberkas cahaya, aku berusaha membuka mataku (lah pantes aja tadi gelap, ternyata aku lupa membuka cover mataku) dan aku melihat... tabung infus, disusul dengan wajah aneh adik perempuanku yang lagi teriak-teriak sambil tertawa sambil menangis, dan ngga lama kemudian si mama papa ikutan nongol dari sisi ranjang yang lain tapi ekspresinya sama juga, ngga kreatif ah. Perlahan-lahan telingaku mulai bisa mendengar, terkadang sayup, terkadang keras, sesekali mendenging, perlu setting sound system dah! Mereka yang dari tadi berakting dalam film bisu sekarang mulai bersuara, aduh berisik banget. Singkat cerita, aksi geser pinggulku gagal dan aku sudah menghabiskan uang jajanku sekitar 3 bulan untuk biaya perawatan, sudah saatnya keluar dan kembali ke masyarakat, tapi aku benar-benar sedih, kecewa, hancur, karena udah kehilangan ratusan porsi bakwan bumbu favoritku hanya untuk beli beberapa tabung air ngga jelas bernama infus, huff... tapi setidaknya aku masih hidup lah, bakwan bumbu i'm comiingg...

          Akhirnya setelah berminggu-minggu rawat inap di rumah sendiri, aku bisa kembali berdiri di bawah gerbang sekolah, menghirup aroma musim hujan yang masih kering kerontang, menatap indahnya langit biru yang tampaknya segera berawan, here i come my school. Sekedar informasi, sekolahku adalah sekolah swasta yang cukup terkenal, karena sekitar 75% siswanya adalah perempuan dan 50% dari mereka memiliki paras yang elok rupawan, atau setidaknya di atas rata-rata lah menurut survey majalah remaja, jadi hari-hari sekolah adalah hari bahagia untukku. Setelah dipikir-pikir belum lama aku menyelamatkan adikku dan dianggap pahlawan keluarga, selamat dari kecelakaan dan pulih seperti semula, aku bahagia, dan senang, dan gembira, dan semuanya itu tidak bertahan lama. Seperti yang sudah aku jelaskan tadi, berarti sisa 25% dari siswa di sekolah ini adalah cow dan kami terbagi menjadi dua golongan, PREMAN dan KORBANnya, ngg... aku adalah golongan kedua. Tak lama setelah menikmati sensasi comeback debut di bawah gerbang sekolah, aku melihat dua teman cow yang senang "berbagi" denganku, menerima tapi tidak memberi, berjalan menuju kemari.

(Pr/T)eman 1 : Hemm... masih hidup jo? Katanya abis keserempet mobil? Kapan mati lo?
(Pr/T)eman 2 : Hei2, bagus kan kalau masih hidup, duit jajan lagi susah nih, pengeluaran banyak.
(Pr/T)eman 1 : Iya jo, lo kan temen kita,  tolongin kita, bagi duit sini, ada brapa lo?
Stopp!! (Kita pause sebentar untuk keperluan perkenalan tokoh utama)

         Namaku Jowy, lengkapnya yang tertulis di akte lahir Joko Widodo, hampir aja kelupaan, ngga lucu kan kalau tokoh utama tidak diketahui namanya, aku adalah anak dari sepasang peternak sapi di desa, aku dan adikku masuk ke sekolah ini karena rekomendasi pamanku di kota, dan inilah salah satu keseharianku di sekolah, dipalak, diperas, dan dibullying. Kenapa aku masuk ke dalam golongan KORBAN? Tentu saja karena kelebihan yang kumiliki, yaitu aku lebih pengecut dari mereka, selama ini hampir tidak pernah ada cerita dimana aku membela diri saat ditindas, ini juga yang menyebabkan sampai saat ini aku tidak mempunyai pasangan walaupun aku dikaruniai wajah tampan. Baiklah cukup sampai sini saja perkenalan singkat mengenai aku, kembali ke adegan di atas.

Aku : Ngg... sebentar-sebentar (keluarin celengan). Aduh!! Aku lupa bawa uang!
(Pr/T)eman 2 : Ayolah jo, jangan bercanda, kita mau jajan nih, cepetan keluarin.
Aku : Tapi hari ini aku beneran lupa, ga bawa duit sama sekali nih, besok deh ya, ngebon dulu.
(Pr/T)eman 2 : Wah, bercanda nih anak, udah lupa rasanya benjol jo? (sambil ngelus pipiku dengan kecepatan 3km/jam)
Aku : Permen mau permen? Kebetulan cuman ada ini di kantong. (puppy face)
(Pr/T)eman 1 : Hajar dulu lah baru ngomong lagi!!

         Di saat seperti inilah biasanya aku berakhir dengan bonyok dan benjol, tapi kali ini sedikit berbeda. Sekali lagi aku mendengar bunyi melengking diikuti dengan pandangan yang samar dan bercahaya, dan lagi-lagi segala sesuatunya bergerak sangat sangat lambat, aku bahkan bisa melihat jelas serangga kecil yang dari tadi terbang mondar-mandir di depan batang hidungku, pastilah aku sudah menepuk itu serangga seandainya pikiranku tidak disibukkan tinju yang sedang melayang ke arahku. Sama seperti insiden waktu sebelum aku tersenggol mobil dengan kecepatan siput, kali inipun aku melihat tinju itu bergerak perlahan ke arah pipi kiriku. Dalam keadaan terheran-heran aku mencoba untuk menghindar, tapi badanku kembali terasa berat, hanya saja kali ini tidak seberat sebelumnya, aku geser kepalaku menjauh, geser geser geseeerrr... ah sial, aku tidak sempat menghindar, kali inipun tetap kena tonjok, walaupun tidak telak. Puas menceramahiku, tuh teman (tapi preman) akhirnya meninggalkan aku sendiri, aku kalah tapi aku menemukan sesuatu, sesuatu yang terbangkitkan dari dalam diriku karena kecelakaan waktu itu, seperti ada yang menarik hatiku untuk keluar dan menemukan sesuatu itu karena aku merasa bahwa hidupku akan berubah mulai saat ini. My live will never be the same, it is my determination.

Kamis, 03 Mei 2012

Putri Cantik Di Antara Juling

         Abis nonton ftv teelit di SC*V kalau ngga salah judulnya "Rivalku Kekasihku." Ngg... mayan sih karena yang maen cantik jadi bisa nyegerin mata dikit-dikit (maap honey >< ), tapi seperti film ngga mutu lainnya, ini film juga terlalu banyak error yang mencolok. Diawali dengan cerita dimana sang putri menjadi juara 1 lomba karya ilmiah di sekolahnya trus ditelepon dikabari kalau mamanya meninggal, alhasil piala dan lembar gabus tanda juara pun terjatuh dari tangannya karena shock, jadi kalau diurutkan menjadi telepon-piala-gabus, ingat "telepon-piala-gabus" (gaya dora the exploder), tapi saat dishoot ke lantai, yang jatuh duluan adalah gabusnya (hukum gravitasi perlu diperbaiki nih!!).

         Yang lebih parah lagi adalah pemilihan kelas tempat shooting dimana semua anak cow nya juling, atau sdikit gangguan penglihatan, atau... Percaya ngga kalau ada cew cuantik imut-imut dalem kelas, puinter abis, baik hati pula mau nolong yang lain, yah cuman sedikit kutu buku gt, gila belajar, tapi ngga ada satupun cow di kelasnya yang nglirik ataupun ndeketin... ... percaya lo?! SPEECHLESS!! Bikin film yang masuk akal dikit lah, atau jangan-jangan tuh sekolah khusus maho?! Nalarku jadi kacau sesaat, kayak lemari pakaian yang diacak-acak, ruwet bleh ><

         Tokoh utama cow nya pindahan dari italia atau prancis ya? Ga ngeh aku, abisnya ngga masuk akal, mana ciri khas tinggal d prancisnya? Cew ku baru 1 taon d china aja logatnya udah berubah, itu dalam cerita udah lama di negara orang logat indo nya kentel amat -_-a Ada satu adegan yang bikin ngekek sampe guling-guling muter komplek, jadi ceritanya si cow tokoh utama lagi main pool (bola sodok tuh bahasa kerennya) trus tiba-tiba ada cew bule dateng, eh langsung ngomong "nikahi aku, nikahi aku, aku hamil" O_O" LHO?! Sapa bapaknya?!! Siapa yang enak siapa yang disuruh nanggung? Gila dah nih cew, ngga masuk akal banget.

         Akhir kata, aku inget omonganku sendiri, terkadang untuk menikmati sesuatu kita harus menyingkirkan nalar kita, dan menghanyutkan perasaan kita ke dalam tontonan (jangankan drama, horror aja kalau pake nalar jadi ngga seru) jadii... y saya menikmati pemandangan aja lah, toh tokoh utama cew nya manis koq, haah... relaksasi mata :p

This is my story, how about you?