Namaku Ryan, 22 tahun, aku masih kuliah di salah satu universitas swasta di kotaku. Saat ini aku sedang memperhatikan seseorang bekerja di bengkelnya, seorang pria paruh baya yang sedang bergelut dengan perkakas lamanya dan gelondongan kayu. Ya, orang itu adalah ayahku, Pak Beno, beliau adalah seorang seniman pemahat kayu yang terkenal, omset usaha ayah bahkan sudah "sangat" cukup untuk menghidupi keluarga kami 2 keturunan, aku bersyukur pada Tuhan untuk itu. Meskipun begitu ada satu hal yang membuat hatiku bertanya-tanya tiap kali melihatnya, kenapa ayah masih mempertahankan perkakas tua yang dipakainya?
Satu hari aku pergi ke dapur, kuseduh dua cangkir teh hangat karena aku teringat sebuah iklan di televisi, "tea time, talking time" kemudian aku segera menghampiri ayah di bengkel pahatnya. Saat ayah melihatku datang menghampirinya dia hanya menyambutku dengan senyum hangatnya dan berkata, "Tumben kamu datang ke bengkel, bawa minum untuk ayah pula. Ada apa nak?" Duh, aku benar-benar malu mendengarnya, aku memang bukan type anak yang sering menemani ayahku, tapi harus kuakui aku memang kurang perhatian pada ayah. Well, mulai dari sini kita beralih ke mode perbincangan aja biar lebih enak.
Aku : Hehe... ngga ada apa-apa koq yah (sambil garuk-garuk kepala), adek hanya kepikiran sesuatu saat melihat ayah bekerja.
Ayah : Kepikiran? Tentang apa? Coba katakan, ayah pengen tau.
Aku : Itu yah, perkakas yang ayah pakai kan sudah usang, sudah tua, sering rusak lagi, kenapa ayah tetap bersikeras memperbaiki dan menggunakannya kembali? Bukankah keluarga kita punya dana lebih untuk membeli yang baru, bahkan yang lebih canggih yah.
(Saat itu ayah hanya diam sejenak, memperhatikan perkakas tua yang sering digunakannya, sesekali dia melihat kedua tangannya, pandangannya begitu sendu seolah mengenang kembali masa lalu, entah apa yang dipikirkan ayah.)
Ayah : Alasannya sederhana, karena itulah prinsip yang ayah pelajari selama hidup bersama dengan almarhum ibumu (jawab ayah dengan wajah tanpa keraguan). Sekarang lihatlah kedua tangan ini nak.
(Aku hanya bisa diam termenung melihat kedua tangan ayah yang penuh dengan bekas luka, begitu banyak, bekas luka yang kecil, yang dalam, yang mengoyak dagingnya, aku bahkan dapat membayangkan betapa kerasnya ayah bekerja selama ini.)
Ayah : Bekas-bekas luka ini adalah kenang-kenangan yang ditorehkan oleh perkakas tua itu (ujarnya dengan bangga). Sejak saat ayah mulai menekuni bidang ini, entah berapa kali ayah gagal dan terluka, ayah adalah orang yang ceroboh dan tidak teliti, berbeda dengan ibumu. Setiap kali ayah terluka ayah marah pada perkakas itu dan membantingnya, tapi setiap kali itu pula ibumu selalu mendukung ayah.
(Ayah kemudian kembali terdiam sejenak, aku melihat air matanya menetes, kenapa yah? Ada apa?)
Ayah : Jika diibaratkan, ayah adalah perkakas tua itu. Berulang kali ayah membuat ibumu terluka, kecewa, sakit tapi tak pernah sekalipun ibumu membuang ayah, tak pernah sekalipun dia menyerah pada ayah. Bahkan di saat ayah rusak dan tak lagi berguna, ibumu selalu berusaha memperbaiki ayah, menutup kerusakan ayah dengan apa yang ada padanya.
(Tanpa sadar pandanganku pun mulai kabur oleh air mata, Hati kecilku mulai terasa sesak oleh perasaan ayah pada ibu, mungkin saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti, tapi kini aku sadar kenapa ayah begitu menghargai perkakas lamanya.)
Aku : Thanks to be my dad, you're the best dad i ever had. (akupun memeluk ayah, aku puas memiliki ayah sepertinya, meskipun aku tahu ayah punya banyak kekurangan. tapi dia yang terbaik)
Pengalaman hidup adalah pelajaran yang berharga. Bahkan saat-saat yang paling kelam dalam hidupmu pun menentukan siapa dirimu sekarang. Hargailah orang-orang di sekitarmu, yang menyayangimu, yang membencimu, yang menerimamu apa adanya, siapapun mereka. Bersyukurlah selalu pada Tuhan, Dia yang takkan meninggalkanmu apapun keadaannya. Cerita ini hanyalah sebuah cerita fiksi yang tiba-tiba membekas di hatiku, entah kenapa rasanya membuatku juga ingin menangis saat menulis (terbawa emosi), I hope you will enjoy it.
This is my story, how about you?