Kamu suka eiffel kan? Aku
akan membawamu ke sana sekarang, yuk cepet berangkat.
Begitulah kata laki-laki yang
kini ada di hadapanku. Senyum ketulusan tergambar sangat jelas di wajahnya yang
kotak, dia menarik tanganku dengan lembut menuju ke arah motor birunya. Ya dia
adalah pacarku, Dio, dan setahuku ko Dio belum lama bekerja di salah satu perusahaan
elektronik dan kurasa tabungannya akan habis jika kami ke Perancis sekarang,
aku ngga mau itu terjadi.
Ya aku memang sangat menyukai
eiffel, aku suka Perancis, aku suka melihat arsitektur mereka yang indah,
terutama eiffel, sangat romantis dan serasa penuh cinta. Tiap kali aku
melihatnya dalam film-film yang kutonton aku selalu bermimpi dapat terbang ke
sana suatu hari nanti, mengikat janji sehidup semati dengan eiffel sebagai
saksi, so sweeettt...
Sebentar ko, aku belum siap,
aku belum bikin passport, aku belum pamitan, belum packing, aku belum... banyak
ko, bahkan aku belum mandi.
Kataku pada ko Dio sembari
menarik tanganku. Wajahku terasa panas saat mengatakannya, meski kami telah
berpacaran satu setengah tahun, tapi mengakui bahwa aku masih kucel dan
melihatnya tertawa kegelian adalah hal yang memalukan bagiku.
Percayalah padaku, kamu akan
tetap cantik di mataku, meski sejujurnya aku berharap kamu sudah mandi non
hahaha... Ayo... kita terburu waktu.
Kata ko Dio sambil menahan
tawa dan melihat jam di tangannya, itu hadiah pertamaku di ulang tahunnya yang
kedua puluh empat, wajahnya terlihat
agak tergesa-gesa, membuatku semakin penasaran.
Akhirnya kuiyakan ajakan ko
Dio, dalam hitungan detik aku berlari ke kamarku, segera kuambil jaket kain
putih yang biasa kupakai bepergian, aku suka bagian bulu-bulu putih halus yang
tersemat di jaket ini, kubawa tas tangan kecil serba ada ku, dan kukantongi hp
kecil flip kesayanganku di celana jeans pendek yang kukenakan sejak pagi.
Aku pergi sebentar mam pap!
Begitu saja pamitku sambil
berlari sebelum interogasi membuatku dan ko Dio terlambat ke tujuan kami, ke
mana pun itu.
Akhirnya berdua kami menyisir
jalanan menuju ke "eiffel" nya ko Dio, sepanjang perjalanan aku
memeluk ko Dio dan menyandarkan kepalaku ke punggungnya, tercium aroma tubuhnya
yang khas bercampur dengan aroma parfum chocolate favoritnya. Hangatnya tubuh
ko Dio, sejuknya angin yang membelai lembut pipiku, dan celotehan si koko yang
tak jelas menyelinap melalui celah-celah helm, membuat mataku terasa sangat
berat, kueratkan pelukanku agar aku tak terjatuh, kemudian perlahan memasuki
alam bawah sadarku.
Lama kemudian terdengar suara
lembut yang nenggetarkan dari balik kegelapan.
non... nooon... nonik... WOI
NON!!
Dan aku pun kaget dan
terkesiap karena ditarik paksa keluar dari alam bawah sadarku. Aku merasakan
genggaman erat ko Dio, dia memegang erat tanganku agar aku tak jatuh saat
terbangun.
Hehehe... maaf ko, habisnya
nyaman banget, pas buat bobo siang hehehe...
Kataku sambil tertawa kecil.
Ko Dio tiba-tiba memutar pinggangnya menghadap kepadaku, kemudian mendekatkan
tangannya ke wajahku. Jari-jarinya yang agak kasar menyentuh bibirku,
mengusapnya ke kanan, ke kiri, ke kanan, kekiri sampai akhirnya aku tersadar
kalau ternyata aku ngiler saat tertidur, duh malunya aku. Kuusapkan lengan
jaketku ke muka ku yang mungkin merona merah padam seperti tomat saat ini.
Kita udah sampai non, sedikit
terlalu awal sih, tapi tak apa, kita bisa beristirahat sejenak sebelum naik.
Kata ko Dio sambil sesekali
melihat jam tangannya dan ke arah langit yang memerah, sepertinya aku
melewatkan perjalanan yang cukup panjang saat aku tettidur, senja mulai membuka
tirainya dan sepertinya waktunya si mentari terbenam ngga akan lama lagi.
Duh aku baru teringat dengan
wajahku yang pasti tambah kucel, harus segera mencari tempat make over nih. Aku
melihat di hadapanku berdiri sebuah bangunan bertingkat, tua, dengan gaya
arsitektur yang agak kebarat-baratan, tidak ada tulisan apapun di depannya,
tapi lampunya menyala, dan pintu kaca di depan bertuliskan "reserved".
Apakah ko Dio ingin membawaku ke sini?
Kita udah sampai ko? Masih
ada waktu kan? Ada toilet ngga deket sini? Nik pengen pipis hehe...
Ko Dio hanya tersenyum
kemudian mengangguk.
Yap, kita sudah sampai,
masuklah duluan, koko parkir motor dulu sebentar, di sebelah kanan dari pintu
masuk ada toilet, trus di samping tangga di sebelah kiri ada beberapa tempat
duduk, tunggulah di sana kalau sudah selesai non, koko segera nyusul.
Begitu katanya si koko,
akupun turun, melambaikan tangan, kemudian bergegas lari ke arah toilet yang
dikatakan ko Dio.
Setelah pintu masuk belok
kanan, aku menemukannya, pintu ladies dengan gambar orang pakai rok, akupun
segera menerjang masuk mencari wastafel dan mengucurkan air, membasahi wajah
dan leherku, sedikit membasuh rambutku yang lepek terkena debu dan panas.
Kuambil tissue dari tas kecil serba adaku untuk menyeka air dan keringat,
tambahkan sedikit bedak dan perona wajah, kulukis garis tipis di lipatan mataku
dan alis, kemudian oleskan lipgloss dan semprotkan sedikit parfum sugar candy
di tubuhku. Kuperhatikan baik-baik cermin di hadapanku, kemudian tersenyum
puas, inilah diriku versi make over dadakan, lumayan cantik koq.
Keluar dari kamar mandi, aku
sudah melihat ko Dio sedang duduk di kursi di samping tangga, agak
terantuk-antuk, sepertinya berusaha mengistirahatkan badannya yang lelah.
Kubuka lagi tas kecilku, kukeluarkan sebungkus plastik basah, kulebarkan,
kemudian pelan-pelan kudekati ko Dio dari samping dan kutempelkan tissue basah
itu ke wajahnya.
Capek ya kooo...
Kutepuk-tepuk kepala ko Dio
perlahan, seperti yang biasa dilakukan mama saat aku manja. Ko Dio hanya tersenyum
lembut padaku, kemudian mengelap wajahnya dengan tissue basah.
Naik yuk, sudah ada yang
menunggu kita di atas, dia pasti sudah tak sabar ingin bertemu denganmu.
Ko Dio menarik tanganku lagi
dengan lembut, telapak tangannya yang besar seolah menelan tanganku yang kecil
dengan hangat. Kami menaiki tangga menuju ke lantai tiga, di ujung tangga itu
ada sebuah pintu berwarna putih kemerahan, kami membuka pintu itu dan menuju ke
luar.
Waw... atap gedung tua yang
cukup luas itu seolah disulap menjadi cafe bernuansa taman yang indah. Dedaunan
hijau menjalar pada pagar besi putih berornamen, bunga-bunga dengan harum yang lembut tengah
bermekaran, simfoni dari kepingan hitam di atas gramophone klasik di meja
counter, dan langit yang merah merekah semakin menyempurnakan suasana sore itu.
Jadi inikah Ryska yang sering
kamu ceritakan itu? Memang secantik kisah yang kudengar dari Dio.
Terdengar suara yang dalam,
tenang, dan berwibawa, tapi penuh dengan kelembutan di setiap intonasinya.
Kupalingkan wajahku ke arah sumber suara itu, dan di sana berdiri seorang pria
paruh baya mengenakan kemeja kuning santai dan celana panjang kain berwarna
putih. Wajah pria itu dipenuhi garis-garis usia yang membuatnya penuh wibawa,
tapi juga garis-garis wajah yang menunjukkan betapa ramahnya dia. Rambut,
janggut, dan kumis tipis yang memutih seolah menunjukkan berapa banyak asam
garam yang telah ditelannya.
Sore paman, terima kasih
sudah mengundang kami, ya ini Ryska, bukankah aku sudah bilang kalau aku ngga
pernah bohong hehehe... Ryska, ini paman keduaku, paman Bill. Paman yang akan
menjamu kita di eiffel kecil miliknya.
Kata ko Dio sambil memeluk
punggung paman Bill.
Ngg... perkenalkan, aku Ryska,
terima kasih undangannya, tempat ini indah sekali, aku menyukainya.
Aduh aku bingung harus
ngomong apa, sangat terasa sekali kecanggunganku, lidahku sangat kelu, ingin
rasanya kupijat lidah ini agar bergerak lincah seperti biasanya.
Hahaha... perkenalkan juga
manis, aku Bill, sayang sekali aku sudah tua, jika tidak pasti aku akan
bersaing dngan Dio untuk mengejarmu.
Canda paman Bill sambil
memukul-mukul ringan lengan ko Dio. Mereka bercanda ringan dengan akrabnya. Baru kali ini kulihat ko Dio
berbincang dengan orang yang lebih senior dengan begitu santai, mereka pasti
sangatlah dekat. Aku ingin lebih sok kenal dengan si paman, tapi aku takut jika
salah merespon, jadi lebih baik pasang senyum manis dan jadi anak baik
sementara waktu.
Silahkan duduk dulu dan
nikmati malam kalian, paman akan menyiapkan semuanya, dan ingat Dio, kamu
berhutang menemani paman dua kali paket vip karaoke happy puppy, kamu boleh
ajak Ryska, dan tetap kamu yang bayar.
Kata paman sembari tertawa
dan membalikkan punggung menuju ke balik meja corner.
Ko Dio tiba-tiba menjulurkan
tangannya ke hadapanku, layaknya para gentlemen yang mengajak pasangan mereka
ke lantai dansa, hanya bedanya kami menuju ke sebuah meja di tengah taman yang
indah, selapis taplak putih berenda, peralatan makan yang tertata rapi, lilin
merah yang menyala terang dan sekuntum mawar
di tengah meja, dan dengan latar matahari terbenam di ujung barat, so
sweettt...
Tapi kenapa disebut eiffel?
Eiffel favoritku kan menara megah artistik di Perancis.
Ko, knapa paman Bill memberi
nama eiffel untuk tempat ini?
Tanyaku sambil melihat
sekitar, siapa tahu ada petunjuk kenapa namanya eiffel, pikirku.
Ituuu... biar paman Bill yang
bercerita nanti, tapi itupun jika nonik ngga keberatan kencan bertiga bersama
paman haha...
Canda ko Dio dengan volume
suara yang sengaja dikeraskan, seperti ingin menggoda paman Bill
Hahaha... nikmatilah dulu
makan malam kalian, nanti paman akan bercerita sedikit tentang eiffel.
Aku setengah terkejut karena
paman Bill tiba-tiba menjawab dari belakangku sambil membawa sebuah nampan
dengan sepasang hidangan yang tersaji cantik.
Satu demi satu hidangan
disiapkan sendiri oleh tangan ahli paman Bill, appetizer, main course, dessert,
lengkap dengan sajian dan hiasan yang indah. Rasa-rasa yang unik, seunik
namanya, aku tak begitu paham dengan cita rasa Perancis, tapi lidah memang
selalu jujur, setiap potong makanan yang tersaji hingga minuman penutupnya yang
hangat menyegarkan kini menghuni perutku yang gembira.
Saat ko Dio mengalihkan matanya
ke arah meja counter akupun ikut berpaling, ah paman Bill sedang menuju kemari,
dia terlihat sedang mengelap tangannya sambil tersenyum puas, sepertinya paman
senang karena setiap hidangannya kembali tanpa sisa. Ko Dio berdiri mengambil
satu kursi yang ada di pinggiran dan menaruhnya di samping kursinya, akupun
segera berdiri dan pindah, aku ingin di sebelahnya ko Dio aja hehehe...
Paman duduk dan menyandarkan
punggungnya, kemudian menghela nafas sambil tersenyum melihat kami.
Ahh... beginilah kalau sudah
berumur, sedikit aktivitas berat maka otot dan sendi akan memberontak. Ryska
masih mau mendengar cerita paman tentang eiffel?
Iya paman iyaa... begitu
pikirku, tapi hanya anggukan kecil yang terekspresikan, aduh payah.
Paman Bill mengeluarkan
selembar kertas, seperti foto yang agak kuno, beliau memandanginya sejenak, senyum
di wajahnya begitu sendu, kemudian paman Bill menyodorkan foto itu kepadaku.
Eiffel!! Background tempat foto ini diambil adalah eiffel, ada pasangan muda di
foto ini, seorang laki-laki gagah dan tampan, walaupun ko Dio ku sedikit lebih
menarik sih, ini pasti paman Bill, dan d sebelahnya seorang perempuan berambut
panjang yang sangat sangat cantik, wajahnya mirip artis Maudy Koesnady tapi sedikit
lebih cempluk dan bulat.
Itu Sari, kekasih paman dulu
sekaligus calon istri paman. Cukup cantik bukan?
Aku hanya bisa mengangguk,
karena hatiku mengakui bahwa aku kalah cantik dibandingkan perempuan bernama
Sari ini.
Tapi kenapa masih calon
paman? Apakah paman belum menikah?
Tanyaku penasaran dengan
nasib hubungan mereka.
Sari adalah satu-satunya
perempuan yang pernah singgah dan menetap di hatiku. Dia sama sepertimu,
mengagumi eiffel dan kisah-kisah romantis d baliknya. Suatu hari aku
mendapatkan bonus dari tempat kerjaku yang dulu, cukup besar, cukup untuk membawa
kami ke Perancis 3 hari 2 malam saat itu. Aku membawa Sari berjalan-jalan
mengelilingi kota Perancis, terutama di sekitar eiffel, menikmati pemandangan
yang indah, melihat pasangan-pasangan bermesraan, suasana jalanan yang romantis
di sore hari, bahkan keajaiban kota cahaya di malamnya, indah, sangat indah,
sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Paman Bill bercerita dengan
antusias, sesekali menutup mata dan terdiam, seperti mengenang masa lalu dalam
ingatannya.
Satu helaan nafas panjang,
seteguk air putih di gelas yang dibawa paman, kemudian cerita paman pun
berlanjut.
Malam terakhir kami di sana,
Sari percaya bahwa dewa cinta memberikan tanda bahwa kami memang pasangan yang
ditakdirkan, karena saat itu perut kami berbunyi bersamaan karena lapar, tepat
di depan sebuah cafe outdoor, cafe yang
menjadi background foto itu. Pertanda yang aneh memang, tapi akupun sudah yakin
pada Sari meski tanpa pertanda itu, jadi terserahlah. Kamipun akhirnya makan di
sana, saat itu aku tak paham apa yang kupesan, aku tak terlalu paham bahasa
barat, tapi secara keseluruhan malam itu tak terlupakan. Wajah Sari begitu
cantik di bawah siraman cahaya lampu malam, aku bahkan tak sempat memperhatikan
indahnya eiffel, cepat-cepat kukeluarkan sebuah kotak dari saku celanaku,
kusodorkan di hadapan Sari, kubuka, dan kukatakan...
Would you marry me?
Sahut ko Dio menimpali cerita
paman sambil cengir-cengir, aku mencubit perutnya keras-keras sampai ko Dio
berteriak minta ampun, aku jengkel karena ko Dio merusak momen paling
menegangkan dari cerita paman. Tidak biasanya ko Dio begini usil, sedangkan
paman Bill malah tertawa saja melihat kami seperti ini, aku malah malu karena sadar
sikapku berubah dari saat pertama aku datang ke sini, ehem, sedikit lebih
brutal.
Paman pun menghela nafasnya
sekali lagi, terlihat kebahagiaan di wajahnya, pasti ini adalah kenangan yang
berharga bagi paman, tak lama paman Bill pun kembali bercerita.
Malam itu Sari tidak
menjawabku, dia hanya tersenyum, sesekali memandangi cincin itu dengan mata
berbinar, kemudian kembali tersenyum melihatku, dia mengambil kotak itu dari
tanganku, menutupnya, kemudian memasukkannya ke dalam saku bajuku. Aku bingung,
apakah dia menolakku? Yah sudahlah, pikirku, mungkin saatnya belum tepat. Kami
mengakhiri malam itu dengan berfoto setelah makan, tepat d depan cafe itu, berjalan
pulang dan satu kecupan manis di pipiku sebelum kami berpisah di lobi hotel.
Trus bagaimana paman? Apa
yang terjadi selanjutnya?
Sepertinya kecupan Sari malam
itu tidak hanya meninggalkan penasaran bagi paman, aku juga nih. Jantungku
berdebar sedikit lebih kencang seperti sedang menyaksikan drama box office
secara live, aku seperti ikut merasakan apa yang dialami paman Bill.
Keesokan paginya kami bertemu
kembali di lobi hotel. Setelah check out, Sari menarik tanganku, mengajakku mencari
cemilan untuk sarapan, pagi itu kami berjalan menyusuri jalanan dekat hotel sambil
menarik travelling bag yang penuh sesak. Pagi yang sangat dingin dan berembun,
Sari tiba-tiba mengatakan sesuatu padaku.
Suatu hari kita buka sebuah
cafe seperti cafe tadi malam ya ko, aku akan belajar membuat masakan Perancis,
nanti koko yang jadi pramusajinya, ngg... atau sebaliknya aja deh, masakan koko
lebih enak sih hehehe...
Aku hanya bengong memandangi
wajahnya saat Sari mengatakan hal itu padaku, sampai akhirnya dia mengangkat
tangan kanannya, menunjukkan jarinya padaku sambil tertawa penuh kemenangan.
Hah? Kenapa paman? Ada apa
dengan jarinya?
Tanyaku dengan sangat
penasaran, aku jadi seperti anak kecil yang dapat mainan baru, ko Dio menepuk-nepuk
kepalaku sambil tertawa ringan, begitu juga paman Bill, paman tertawa
terbahak-bahak saat itu.
Ternyata malam ketika aku
melamar Sari, dia mengembalikan kotak itu padaku, tanpa cincinnya, dan dia
sangat puas melihat wajah bingungku malam itu. Cincin itulah yang
ditunjukkannya padaku pagi itu, tersemat di jari manisnya yang mungil, sangat
cantik. Aku memeluknya langsung saat itu juga, tak peduli berapa banyak orang
yang melihat.
Paman tiba-tiba terdiam
sambil memandangi fotonya bersama Sari.
Lalu kenapa paman belum
menikah dengan Sari, bukankah Sari sudah menerima lamaran paman?
Paman Bill tetap terdiam,
entah tidak mendengar pertanyaanku atau...
Kecelakaan.
Satu kata yang terlontar dari
mulut ko Dio cukup menjelaskan semuanya, dan akupun terdiam, sesekali aku
melihat ke arah paman Bill yang sedang diam tertunduk. Aku bingung dengan
situasi ini.
Lima menit kami berdiam,
hanya angin yang masih ceria berdansa dengan sang lidah api di tengah meja
kami, kemudian paman Bill mengangkat wajahnya, mengelap wajahnya dengan
punggung lengan bajunya kemudian melanjutkan bercerita.
Pernah satu kali aku mencoba,
kembali ke Perancis setelah kepergian Sari, mencoba mengenang kembali
perjalanan terakhirku bersamanya, aku kembali ke cafe malam itu, memandangi
eiffel dari kejauhan.
Menara cinta yang melegenda
yang dipuja banyak pasangan di dunia, inspirasi berbagai kisah cinta terkenal,
keajaiban yang tercipta oleh sang jenius di antara jenius, simbol cinta abadi.
Sayangnya... bagiku saat itu, eiffel tak lebih dari sekedar monas di Perancis,
tidak tanpa Sari. Lima belas hari sejak kepulanganku dari perjalanan itu, aku
resign dari pekerjaanku, kugunakan hampir semua tabunganku untuk membeli gedung
ini dan mendesign ulang tempat ini, mewujudkan harapan Sari untuk kami. Butuh
dua tahun untuk aku dapat menyandarkan hidupku pada cafe ini. Itulah kenapa aku
menamakan cafe ini eiffel meski papan namanya masih dalam perbaikan.
Bagiku Sari adalah
masterpiece itu, jauh lebih indah daripada eiffel, dan tak tergantikan.
Paman Bill menutup ceritanya,
menarik seutas kalung keluar dari balik bajunya, di ujung kalung itu terdapat sebuah
cincin dengan mata berlian yang indah, dan paman tak berhenti memandangi cincin
itu. Aku merasa aku dapat melihat jejak perjuangan paman Bill saat itu jika aku
menyaksikan sekelilingku, betapa tempat ini dibuat dengan penuh kesungguhan, menyerupai
seperti cafe kenangan dalam foto tua itu. Sekejap aku merasa eiffel yang satu
ini memiliki nilai kenangan yang lebih berharga dari yang aku idam-idamkan.
Tiba-tiba aku merasakan
genggaman yang lembut dan sangat hangat di tanganku, ko Dio, aku beru menyadari
udara di luar sini cukup dingin, cerita paman Bill mengalihkan perhatianku,
membuatku hanyut dalam aliran perasaan yang dikenangnya.
Karena inilah aku membawamu
ke sini, kurasa ini momen yang paling tepat bagiku...
Kata-kata ko Dio terhenti,
kulihat ekspresi wajahnya sangat serius, dia meraih sesuatu dari saku celananya
dan menyodorkannya padaku, sebuah KOTAK kecil hitam! Arrgghh... aku ingin
berteriak, tapi aku meyakinkan diriku untuk tetap tenang, jaga image, aduh
jantungku berdetak keras dan semakin keras, ingin rasanya aku melompat dan
mengatakan ya!! Ko Dio mau melamarku seperti yang dilakukan paman Bill, aku
bahagia, aku terharu, aku bingung.
Kuyakinkan diriku bahwa aku
harus tenang, aku mengambil kotak hitam itu dari ko Dio, menunggu ko Dio
melanjutkan kalimatnya yang belum selesai, dan tak kunjung diselesaikan, aarghh
ko Diooo... Kubuka sajalah kotak hitam itu, setiap mili kotak itu terbuka jantungku
serasa berdetak semakin keras, sampai akhirnya aku dapat melihat isi kotak
itu... KOSONG?! Spontan ko Dio dan paman Bill tertawa sangat keras, mukaku
terasa panas, aku malu, bingung, aku salah tingkah, kuambil gelas minumanku
yang hampir kosong dan meneguknya lagi.
Tak lama kemudian ko Dio
memelukku, mengecup keningku, meraih tanganku, kemudian...
I love you, Ryska
Dan dalam seucap kalimat, sebuah
cincin sudah terpasang di jari manisku, aku terdiam, perasaanku kacau oleh
semua hal yang tidak masuk akal ini. Air mataku mulai menetes, aku senang,
sangat sangat senang, kupeluk ko Dio.
Aku mauuuu... ya aku mau.
Kusadari eiffel tak lebih
berarti dibandingkan kisah cinta yang telah kita temukan, yang mungkin telah
kita miliki, jika kita menghargainya.
This is my story, how about you?