Selasa, 02 Oktober 2012

5 Kesalahan karyawan yang berujung pensiun dini (Ups... You got FIRED!)

         Sebagai manusia, melakukan kesalahan merupakan hal yang wajar, karena memang tiada gading yang tak retak, akan tetapi berdasarkan survey dan observasi, ada beberapa jenis kesalahan karyawan yang tidak bisa ditoleransi, dan tentunya berujung pemutusan hubungan kerja. Mencegah tentunya lebih baik daripada mengobati, jadi bagi anda yang penasaran dan ingin mengantisipasi kesalahan-kesalahan tersebut, berikut penjelasannya :

5 Kesalahan Fatal Karyawan :

1. Salah mengenali tempat kerja
Adalah kesalahan yang fatal apabila anda sampai lupa dimana dan untuk siapa anda bekerja. Bayangkanlah anda sudah bekerja dengan giat sepenuh hati dan menyelesaikan setiap tugas yang diberikan, tapi ternyata anda baru ingat, kalau tempat kerja yang anda masuki salah, dan accidentally boss anda tidak mau membayar gaji anda hari itu, sakit pasti. Selain itu, seringnya salah dalam mengenali lokasi tempat anda bekerja akan membuat absensi anda bolong-bolong dan akhirnya anda akan dipecat karena sudah 3x melalaikan absensi anda (ingat batas toleransi absensi kelas anda hanya 3x).

2. Salah mengingat posisi atau jabatan anda
Pastikanlah anda mengerti betul posisi anda di tempat kerja dan bekerjalah sesuai hak dan kewajiban yang dipercayakan pada anda. Jangan sampai anda yang mungkin adalah pengawas lapangan, malah duduk-duduk santai di kursi direktur sambil memesan teh hangat pada OB, apalagi jika itu adalah kantor direktur perusahaan lain, maka percayalah hal tersebut tidak baik untuk masa depan anda, bahkan dapat dipastikan anda akan segera menerima surat perceraian dari perusahaan.

3. Salah mengerjakan tugas
Sebuah perusahaan atau lapangan kerja lain yang cukup kompleks tentunya memiliki hierarki dimana setiap posisi dalam organisasi tersebut memiliki tugas masing-masing untuk memastikan usaha berjalan dengan lancar. Jadi berpikirlah dua kali jika posisi anda sebagai OB ingin mengomentari kebijakan para penanam saham secara live di ruang rapat. Atau jangan sembarangan menandatangani surat transaksi jual beli jika anda adalah seorang cleaning service. Boss anda pasti akan meragukan kredibilitas anda sebagai karyawan, dan bye bye.

4. Salah makan yang berlebihan
Ingatlah bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, terutama apabila anda berlebihan makan gaji buta, makan uang perusahaan diam-diam, atau bahkan anda makan juga putri cantik direktur, sudah hampir pasti anda juga akan dimakan oleh para HRD yang geram melihat tingkah anda. Sebagai karyawan yang baik jagalah apa yang anda makan, agar nutrisi terpenuhi, badan sehat, dan anda dapat bekerja dengan baik. Kunjungi ahli gizi atau posyandu terdekat jika diperlukan.

5. Salah paham yang tidak tanggung-tanggung
Sadarlah bahwa dalam pekerjaan, komunikasi itu sangat penting, jadi manfaatkanlah otak anda sebaik-baiknya saat berbicara dengan seseorang agar anda mengerti apa yang mereka maksudkan, jangan sampai anda menafsirkan sebuah kalimat hanya dengan ilmu kebatinan, hanya orang-orang pintar yang bisa melakukan itu. Jadi ingatlah untuk tidak menerawang saat boss anda berbicara, karena anda bisa dianggap bermasalah kejiwaan dan terpaksa diberhentikan demi masa depan perusahaan.

         Begitulah sekiranya pembahasan mengenai kesalahan-kesalahan yang dapat berdampak buruk bagi karir anda, semoga cukup membantu bagi anda yang membaca dan membutuhkan pencerahan agar tidak tertendang dari posisi kerja anda saat ini, selamat malam dan selamat beristirahat.

This is my story, how about you?

Selasa, 28 Agustus 2012

Eiffel, I'm not lovin you.


Kamu suka eiffel kan? Aku akan membawamu ke sana sekarang, yuk cepet berangkat.
Begitulah kata laki-laki yang kini ada di hadapanku. Senyum ketulusan tergambar sangat jelas di wajahnya yang kotak, dia menarik tanganku dengan lembut menuju ke arah motor birunya. Ya dia adalah pacarku, Dio, dan setahuku ko Dio belum lama bekerja di salah satu perusahaan elektronik dan kurasa tabungannya akan habis jika kami ke Perancis sekarang, aku ngga mau itu terjadi.

Ya aku memang sangat menyukai eiffel, aku suka Perancis, aku suka melihat arsitektur mereka yang indah, terutama eiffel, sangat romantis dan serasa penuh cinta. Tiap kali aku melihatnya dalam film-film yang kutonton aku selalu bermimpi dapat terbang ke sana suatu hari nanti, mengikat janji sehidup semati dengan eiffel sebagai saksi, so sweeettt...

Sebentar ko, aku belum siap, aku belum bikin passport, aku belum pamitan, belum packing, aku belum... banyak ko, bahkan aku belum mandi.
Kataku pada ko Dio sembari menarik tanganku. Wajahku terasa panas saat mengatakannya, meski kami telah berpacaran satu setengah tahun, tapi mengakui bahwa aku masih kucel dan melihatnya tertawa kegelian adalah hal yang memalukan bagiku.

Percayalah padaku, kamu akan tetap cantik di mataku, meski sejujurnya aku berharap kamu sudah mandi non hahaha... Ayo... kita terburu waktu.
Kata ko Dio sambil menahan tawa dan melihat jam di tangannya, itu hadiah pertamaku di ulang tahunnya yang kedua puluh empat,  wajahnya terlihat agak tergesa-gesa, membuatku semakin penasaran.

Akhirnya kuiyakan ajakan ko Dio, dalam hitungan detik aku berlari ke kamarku, segera kuambil jaket kain putih yang biasa kupakai bepergian, aku suka bagian bulu-bulu putih halus yang tersemat di jaket ini, kubawa tas tangan kecil serba ada ku, dan kukantongi hp kecil flip kesayanganku di celana jeans pendek yang kukenakan sejak pagi.
Aku pergi sebentar mam pap!
Begitu saja pamitku sambil berlari sebelum interogasi membuatku dan ko Dio terlambat ke tujuan kami, ke mana pun itu.

Akhirnya berdua kami menyisir jalanan menuju ke "eiffel" nya ko Dio, sepanjang perjalanan aku memeluk ko Dio dan menyandarkan kepalaku ke punggungnya, tercium aroma tubuhnya yang khas bercampur dengan aroma parfum chocolate favoritnya. Hangatnya tubuh ko Dio, sejuknya angin yang membelai lembut pipiku, dan celotehan si koko yang tak jelas menyelinap melalui celah-celah helm, membuat mataku terasa sangat berat, kueratkan pelukanku agar aku tak terjatuh, kemudian perlahan memasuki alam bawah sadarku.

Lama kemudian terdengar suara lembut yang nenggetarkan dari balik kegelapan.
non... nooon... nonik... WOI NON!!
Dan aku pun kaget dan terkesiap karena ditarik paksa keluar dari alam bawah sadarku. Aku merasakan genggaman erat ko Dio, dia memegang erat tanganku agar aku tak jatuh saat terbangun.

Hehehe... maaf ko, habisnya nyaman banget, pas buat bobo siang hehehe...
Kataku sambil tertawa kecil. Ko Dio tiba-tiba memutar pinggangnya menghadap kepadaku, kemudian mendekatkan tangannya ke wajahku. Jari-jarinya yang agak kasar menyentuh bibirku, mengusapnya ke kanan, ke kiri, ke kanan, kekiri sampai akhirnya aku tersadar kalau ternyata aku ngiler saat tertidur, duh malunya aku. Kuusapkan lengan jaketku ke muka ku yang mungkin merona merah padam seperti tomat saat ini.

Kita udah sampai non, sedikit terlalu awal sih, tapi tak apa, kita bisa beristirahat sejenak sebelum naik.
Kata ko Dio sambil sesekali melihat jam tangannya dan ke arah langit yang memerah, sepertinya aku melewatkan perjalanan yang cukup panjang saat aku tettidur, senja mulai membuka tirainya dan sepertinya waktunya si mentari terbenam ngga akan lama lagi.

Duh aku baru teringat dengan wajahku yang pasti tambah kucel, harus segera mencari tempat make over nih. Aku melihat di hadapanku berdiri sebuah bangunan bertingkat, tua, dengan gaya arsitektur yang agak kebarat-baratan, tidak ada tulisan apapun di depannya, tapi lampunya menyala, dan pintu kaca di depan bertuliskan "reserved". Apakah ko Dio ingin membawaku ke sini?
Kita udah sampai ko? Masih ada waktu kan? Ada toilet ngga deket sini? Nik pengen pipis  hehe...

Ko Dio hanya tersenyum kemudian mengangguk.
Yap, kita sudah sampai, masuklah duluan, koko parkir motor dulu sebentar, di sebelah kanan dari pintu masuk ada toilet, trus di samping tangga di sebelah kiri ada beberapa tempat duduk, tunggulah di sana kalau sudah selesai non, koko segera nyusul.
Begitu katanya si koko, akupun turun, melambaikan tangan, kemudian bergegas lari ke arah toilet yang dikatakan ko Dio.

Setelah pintu masuk belok kanan, aku menemukannya, pintu ladies dengan gambar orang pakai rok, akupun segera menerjang masuk mencari wastafel dan mengucurkan air, membasahi wajah dan leherku, sedikit membasuh rambutku yang lepek terkena debu dan panas. Kuambil tissue dari tas kecil serba adaku untuk menyeka air dan keringat, tambahkan sedikit bedak dan perona wajah, kulukis garis tipis di lipatan mataku dan alis, kemudian oleskan lipgloss dan semprotkan sedikit parfum sugar candy di tubuhku. Kuperhatikan baik-baik cermin di hadapanku, kemudian tersenyum puas, inilah diriku versi make over dadakan, lumayan cantik koq.

Keluar dari kamar mandi, aku sudah melihat ko Dio sedang duduk di kursi di samping tangga, agak terantuk-antuk, sepertinya berusaha mengistirahatkan badannya yang lelah. Kubuka lagi tas kecilku, kukeluarkan sebungkus plastik basah, kulebarkan, kemudian pelan-pelan kudekati ko Dio dari samping dan kutempelkan tissue basah itu ke wajahnya.
Capek ya kooo...
Kutepuk-tepuk kepala ko Dio perlahan, seperti yang biasa dilakukan mama saat aku manja. Ko Dio hanya tersenyum lembut padaku, kemudian mengelap wajahnya dengan tissue basah.

Naik yuk, sudah ada yang menunggu kita di atas, dia pasti sudah tak sabar ingin bertemu denganmu.
Ko Dio menarik tanganku lagi dengan lembut, telapak tangannya yang besar seolah menelan tanganku yang kecil dengan hangat. Kami menaiki tangga menuju ke lantai tiga, di ujung tangga itu ada sebuah pintu berwarna putih kemerahan, kami membuka pintu itu dan menuju ke luar.

Waw... atap gedung tua yang cukup luas itu seolah disulap menjadi cafe bernuansa taman yang indah. Dedaunan hijau menjalar pada pagar besi putih berornamen,  bunga-bunga dengan harum yang lembut tengah bermekaran, simfoni dari kepingan hitam di atas gramophone klasik di meja counter, dan langit yang merah merekah semakin menyempurnakan suasana sore itu.

Jadi inikah Ryska yang sering kamu ceritakan itu? Memang secantik kisah yang kudengar dari Dio.
Terdengar suara yang dalam, tenang, dan berwibawa, tapi penuh dengan kelembutan di setiap intonasinya. Kupalingkan wajahku ke arah sumber suara itu, dan di sana berdiri seorang pria paruh baya mengenakan kemeja kuning santai dan celana panjang kain berwarna putih. Wajah pria itu dipenuhi garis-garis usia yang membuatnya penuh wibawa, tapi juga garis-garis wajah yang menunjukkan betapa ramahnya dia. Rambut, janggut, dan kumis tipis yang memutih seolah menunjukkan berapa banyak asam garam yang telah ditelannya.

Sore paman, terima kasih sudah mengundang kami, ya ini Ryska, bukankah aku sudah bilang kalau aku ngga pernah bohong hehehe... Ryska, ini paman keduaku, paman Bill. Paman yang akan menjamu kita di eiffel kecil miliknya.
Kata ko Dio sambil memeluk punggung paman Bill.

Ngg... perkenalkan, aku Ryska, terima kasih undangannya, tempat ini indah sekali, aku menyukainya.
Aduh aku bingung harus ngomong apa, sangat terasa sekali kecanggunganku, lidahku sangat kelu, ingin rasanya kupijat lidah ini agar bergerak lincah seperti biasanya.

Hahaha... perkenalkan juga manis, aku Bill, sayang sekali aku sudah tua, jika tidak pasti aku akan bersaing dngan Dio untuk mengejarmu.
Canda paman Bill sambil memukul-mukul ringan lengan ko Dio. Mereka bercanda ringan dengan akrabnya. Baru kali ini kulihat ko Dio berbincang dengan orang yang lebih senior dengan begitu santai, mereka pasti sangatlah dekat. Aku ingin lebih sok kenal dengan si paman, tapi aku takut jika salah merespon, jadi lebih baik pasang senyum manis dan jadi anak baik sementara waktu.

Silahkan duduk dulu dan nikmati malam kalian, paman akan menyiapkan semuanya, dan ingat Dio, kamu berhutang menemani paman dua kali paket vip karaoke happy puppy, kamu boleh ajak Ryska, dan tetap kamu yang bayar.
Kata paman sembari tertawa dan membalikkan punggung menuju ke balik meja corner.

Ko Dio tiba-tiba menjulurkan tangannya ke hadapanku, layaknya para gentlemen yang mengajak pasangan mereka ke lantai dansa, hanya bedanya kami menuju ke sebuah meja di tengah taman yang indah, selapis taplak putih berenda, peralatan makan yang tertata rapi, lilin merah yang menyala terang dan sekuntum mawar  di tengah meja, dan dengan latar matahari terbenam di ujung barat, so sweettt...

Tapi kenapa disebut eiffel? Eiffel favoritku kan menara megah artistik di Perancis.
Ko, knapa paman Bill memberi nama eiffel untuk tempat ini?
Tanyaku sambil melihat sekitar, siapa tahu ada petunjuk kenapa namanya eiffel, pikirku.

Ituuu... biar paman Bill yang bercerita nanti, tapi itupun jika nonik ngga keberatan kencan bertiga bersama paman haha...
Canda ko Dio dengan volume suara yang sengaja dikeraskan, seperti ingin menggoda paman Bill

Hahaha... nikmatilah dulu makan malam kalian, nanti paman akan bercerita sedikit tentang eiffel.
Aku setengah terkejut karena paman Bill tiba-tiba menjawab dari belakangku sambil membawa sebuah nampan dengan sepasang hidangan yang tersaji cantik.

Satu demi satu hidangan disiapkan sendiri oleh tangan ahli paman Bill, appetizer, main course, dessert, lengkap dengan sajian dan hiasan yang indah. Rasa-rasa yang unik, seunik namanya, aku tak begitu paham dengan cita rasa Perancis, tapi lidah memang selalu jujur, setiap potong makanan yang tersaji hingga minuman penutupnya yang hangat menyegarkan kini menghuni perutku yang gembira.

Saat ko Dio mengalihkan matanya ke arah meja counter akupun ikut berpaling, ah paman Bill sedang menuju kemari, dia terlihat sedang mengelap tangannya sambil tersenyum puas, sepertinya paman senang karena setiap hidangannya kembali tanpa sisa. Ko Dio berdiri mengambil satu kursi yang ada di pinggiran dan menaruhnya di samping kursinya, akupun segera berdiri dan pindah, aku ingin di sebelahnya ko Dio aja hehehe...

Paman duduk dan menyandarkan punggungnya, kemudian menghela nafas sambil tersenyum melihat kami.
Ahh... beginilah kalau sudah berumur, sedikit aktivitas berat maka otot dan sendi akan memberontak. Ryska masih mau mendengar cerita paman tentang eiffel?
Iya paman iyaa... begitu pikirku, tapi hanya anggukan kecil yang terekspresikan, aduh payah.

Paman Bill mengeluarkan selembar kertas, seperti foto yang agak kuno, beliau memandanginya sejenak, senyum di wajahnya begitu sendu, kemudian paman Bill menyodorkan foto itu kepadaku. Eiffel!! Background tempat foto ini diambil adalah eiffel, ada pasangan muda di foto ini, seorang laki-laki gagah dan tampan, walaupun ko Dio ku sedikit lebih menarik sih, ini pasti paman Bill, dan d sebelahnya seorang perempuan berambut panjang yang sangat sangat cantik, wajahnya mirip artis Maudy Koesnady tapi sedikit lebih cempluk dan bulat.

Itu Sari, kekasih paman dulu sekaligus calon istri paman. Cukup cantik bukan?
Aku hanya bisa mengangguk, karena hatiku mengakui bahwa aku kalah cantik dibandingkan perempuan bernama Sari ini.
Tapi kenapa masih calon paman? Apakah paman belum menikah?
Tanyaku penasaran dengan nasib hubungan mereka.

Sari adalah satu-satunya perempuan yang pernah singgah dan menetap di hatiku. Dia sama sepertimu, mengagumi eiffel dan kisah-kisah romantis d baliknya. Suatu hari aku mendapatkan bonus dari tempat kerjaku yang dulu, cukup besar, cukup untuk membawa kami ke Perancis 3 hari 2 malam saat itu. Aku membawa Sari berjalan-jalan mengelilingi kota Perancis, terutama di sekitar eiffel, menikmati pemandangan yang indah, melihat pasangan-pasangan bermesraan, suasana jalanan yang romantis di sore hari, bahkan keajaiban kota cahaya di malamnya, indah, sangat indah, sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Paman Bill bercerita dengan antusias, sesekali menutup mata dan terdiam, seperti mengenang masa lalu dalam ingatannya.

Satu helaan nafas panjang, seteguk air putih di gelas yang dibawa paman, kemudian cerita paman pun berlanjut.
Malam terakhir kami di sana, Sari percaya bahwa dewa cinta memberikan tanda bahwa kami memang pasangan yang ditakdirkan, karena saat itu perut kami berbunyi bersamaan karena lapar, tepat di depan sebuah cafe outdoor,  cafe yang menjadi background foto itu. Pertanda yang aneh memang, tapi akupun sudah yakin pada Sari meski tanpa pertanda itu, jadi terserahlah. Kamipun akhirnya makan di sana, saat itu aku tak paham apa yang kupesan, aku tak terlalu paham bahasa barat, tapi secara keseluruhan malam itu tak terlupakan. Wajah Sari begitu cantik di bawah siraman cahaya lampu malam, aku bahkan tak sempat memperhatikan indahnya eiffel, cepat-cepat kukeluarkan sebuah kotak dari saku celanaku, kusodorkan di hadapan Sari, kubuka, dan kukatakan...

Would you marry me?
Sahut ko Dio menimpali cerita paman sambil cengir-cengir, aku mencubit perutnya keras-keras sampai ko Dio berteriak minta ampun, aku jengkel karena ko Dio merusak momen paling menegangkan dari cerita paman. Tidak biasanya ko Dio begini usil, sedangkan paman Bill malah tertawa saja melihat kami seperti ini, aku malah malu karena sadar sikapku berubah dari saat pertama aku datang ke sini, ehem, sedikit lebih brutal.

Paman pun menghela nafasnya sekali lagi, terlihat kebahagiaan di wajahnya, pasti ini adalah kenangan yang berharga bagi paman, tak lama paman Bill pun kembali bercerita.
Malam itu Sari tidak menjawabku, dia hanya tersenyum, sesekali memandangi cincin itu dengan mata berbinar, kemudian kembali tersenyum melihatku, dia mengambil kotak itu dari tanganku, menutupnya, kemudian memasukkannya ke dalam saku bajuku. Aku bingung, apakah dia menolakku? Yah sudahlah, pikirku, mungkin saatnya belum tepat. Kami mengakhiri malam itu dengan berfoto setelah makan, tepat d depan cafe itu, berjalan pulang dan satu kecupan manis di pipiku sebelum kami berpisah di lobi hotel.

Trus bagaimana paman? Apa yang terjadi selanjutnya?
Sepertinya kecupan Sari malam itu tidak hanya meninggalkan penasaran bagi paman, aku juga nih. Jantungku berdebar sedikit lebih kencang seperti sedang menyaksikan drama box office secara live, aku seperti ikut merasakan apa yang dialami paman Bill.

Keesokan paginya kami bertemu kembali di lobi hotel. Setelah check out, Sari menarik tanganku, mengajakku mencari cemilan untuk sarapan, pagi itu kami berjalan menyusuri jalanan dekat hotel sambil menarik travelling bag yang penuh sesak. Pagi yang sangat dingin dan berembun, Sari tiba-tiba mengatakan sesuatu padaku.
Suatu hari kita buka sebuah cafe seperti cafe tadi malam ya ko, aku akan belajar membuat masakan Perancis, nanti koko yang jadi pramusajinya, ngg... atau sebaliknya aja deh, masakan koko lebih enak sih hehehe...
Aku hanya bengong memandangi wajahnya saat Sari mengatakan hal itu padaku, sampai akhirnya dia mengangkat tangan kanannya, menunjukkan jarinya padaku sambil tertawa penuh kemenangan.

Hah? Kenapa paman? Ada apa dengan jarinya?
Tanyaku dengan sangat penasaran, aku jadi seperti anak kecil yang dapat mainan baru, ko Dio menepuk-nepuk kepalaku sambil tertawa ringan, begitu juga paman Bill, paman tertawa terbahak-bahak saat itu.

Ternyata malam ketika aku melamar Sari, dia mengembalikan kotak itu padaku, tanpa cincinnya, dan dia sangat puas melihat wajah bingungku malam itu. Cincin itulah yang ditunjukkannya padaku pagi itu, tersemat di jari manisnya yang mungil, sangat cantik. Aku memeluknya langsung saat itu juga, tak peduli berapa banyak orang yang melihat.
Paman tiba-tiba terdiam sambil memandangi fotonya bersama Sari.

Lalu kenapa paman belum menikah dengan Sari, bukankah Sari sudah menerima lamaran paman?
Paman Bill tetap terdiam, entah tidak mendengar pertanyaanku atau...
Kecelakaan.
Satu kata yang terlontar dari mulut ko Dio cukup menjelaskan semuanya, dan akupun terdiam, sesekali aku melihat ke arah paman Bill yang sedang diam tertunduk. Aku bingung dengan situasi ini.

Lima menit kami berdiam, hanya angin yang masih ceria berdansa dengan sang lidah api di tengah meja kami, kemudian paman Bill mengangkat wajahnya, mengelap wajahnya dengan punggung lengan bajunya kemudian melanjutkan bercerita.

Pernah satu kali aku mencoba, kembali ke Perancis setelah kepergian Sari, mencoba mengenang kembali perjalanan terakhirku bersamanya, aku kembali ke cafe malam itu, memandangi eiffel dari kejauhan.

Menara cinta yang melegenda yang dipuja banyak pasangan di dunia, inspirasi berbagai kisah cinta terkenal, keajaiban yang tercipta oleh sang jenius di antara jenius, simbol cinta abadi. Sayangnya... bagiku saat itu, eiffel tak lebih dari sekedar monas di Perancis, tidak tanpa Sari. Lima belas hari sejak kepulanganku dari perjalanan itu, aku resign dari pekerjaanku, kugunakan hampir semua tabunganku untuk membeli gedung ini dan mendesign ulang tempat ini, mewujudkan harapan Sari untuk kami. Butuh dua tahun untuk aku dapat menyandarkan hidupku pada cafe ini. Itulah kenapa aku menamakan cafe ini eiffel meski papan namanya masih dalam perbaikan.

Bagiku Sari adalah masterpiece itu, jauh lebih indah daripada eiffel, dan tak tergantikan.
Paman Bill menutup ceritanya, menarik seutas kalung keluar dari balik bajunya, di ujung kalung itu terdapat sebuah cincin dengan mata berlian yang indah, dan paman tak berhenti memandangi cincin itu. Aku merasa aku dapat melihat jejak perjuangan paman Bill saat itu jika aku menyaksikan sekelilingku, betapa tempat ini dibuat dengan penuh kesungguhan, menyerupai seperti cafe kenangan dalam foto tua itu. Sekejap aku merasa eiffel yang satu ini memiliki nilai kenangan yang lebih berharga dari yang aku idam-idamkan.

Tiba-tiba aku merasakan genggaman yang lembut dan sangat hangat di tanganku, ko Dio, aku beru menyadari udara di luar sini cukup dingin, cerita paman Bill mengalihkan perhatianku, membuatku hanyut dalam aliran perasaan yang dikenangnya.

Karena inilah aku membawamu ke sini, kurasa ini momen yang paling tepat bagiku...
Kata-kata ko Dio terhenti, kulihat ekspresi wajahnya sangat serius, dia meraih sesuatu dari saku celananya dan menyodorkannya padaku, sebuah KOTAK kecil hitam! Arrgghh... aku ingin berteriak, tapi aku meyakinkan diriku untuk tetap tenang, jaga image, aduh jantungku berdetak keras dan semakin keras, ingin rasanya aku melompat dan mengatakan ya!! Ko Dio mau melamarku seperti yang dilakukan paman Bill, aku bahagia, aku terharu, aku bingung.

Kuyakinkan diriku bahwa aku harus tenang, aku mengambil kotak hitam itu dari ko Dio, menunggu ko Dio melanjutkan kalimatnya yang belum selesai, dan tak kunjung diselesaikan, aarghh ko Diooo... Kubuka sajalah kotak hitam itu, setiap mili kotak itu terbuka jantungku serasa berdetak semakin keras, sampai akhirnya aku dapat melihat isi kotak itu... KOSONG?! Spontan ko Dio dan paman Bill tertawa sangat keras, mukaku terasa panas, aku malu, bingung, aku salah tingkah, kuambil gelas minumanku yang hampir kosong dan meneguknya lagi.

Tak lama kemudian ko Dio memelukku, mengecup keningku, meraih tanganku, kemudian...
I love you, Ryska
Dan dalam seucap kalimat, sebuah cincin sudah terpasang di jari manisku, aku terdiam, perasaanku kacau oleh semua hal yang tidak masuk akal ini. Air mataku mulai menetes, aku senang, sangat sangat senang, kupeluk ko Dio.
Aku mauuuu... ya aku mau.
Kusadari eiffel tak lebih berarti dibandingkan kisah cinta yang telah kita temukan, yang mungkin telah kita miliki, jika kita menghargainya.

This is my story, how about you?

Kamis, 09 Agustus 2012

Menapak Dalam Kenangan

         Kujejakkan kakiku pada starter sepeda motor bebek biru kesayanganku, satu kali, dua kali, dan tig..gaa... sampai akhirnya terdengar suara mesin tua meraung lembut, deruman yang sama yang kunikmati setiap hari saat berada di jalanan. Kulayangkan pandanganku pada fuel meter di balik kaca pelindung yang retak, retak oleh hantaman kemarahan dan kekecewaan dalam kepalan tanganku, retak seperti hatiku malam itu, kecewa, kehilangan dalam penantian. Entah berapa lama pikirku melayang, tenggelam jauh ke dalam perasaan yang tak menentu, untuk apa aku kembali ke kota itu? Momen-momen paling menyakitkan dalam hidup adalah momen-momen terindah yang berakhir dan tak dapat diulang, dan aku sadar itu.

         DIIINNNnnn..!! Perhatianku mendadak terenggut paksa oleh truk yang melintas di hadapanku, "Supir jablai kangen rumah", itulah sepintas tulisan yang sempat kubaca di belakang truk merah itu, dan tentu saja disertai gambar cew berpakaian seksi dengan pose yang menggoda ala truk pengangkut pasir. Ah ya, rumah... di kota itulah aku menikmati 6 tahun masa kuliahku, momen dimana jomblo-jomblo perantauan kompak menghabiskan weekend bersama ditemani kotak berlabel pentium, wisata kuliner 2 kali sehari di warung-warung makan dengan harga terjangkau, kehadiran cinta yang pernah kuharap menjadi yang terakhir bukan berakhir, rumah... karena itulah aku ingin kembali. Kuremas dan kuputar setang gas dalam genggamanku, memulai perjalanan penuh kenangan menuju kota kecil dimana rumah keduaku berada.

         Kulecutkan bebek biruku di atas lautan aspal yang legam karena aku ingin segera sampai ke tujuan, angin begitu keras mencegah lajuku tapi aku tak peduli, aku terus menatap ke depan, pandangan di sekitar mulai terlihat kabur oleh kecepatan, cepat... cepat... semakin cepat aku sampai ke rumahku, semakin cepat aku bertemu kawanku. Sampai di satu titik aku memperlambat lajuku, bukan karena lelah, bukan karena terhalang, tapi karena aroma rumput, dedaunan, dan bunga liar menyusup ke hidungku, aroma yang menenangkan. Rasa penasaran membuatku menengok ke pinggiran jalan, yang semula terlihat kabur ternyata begitu indah, hamparan sawah hijau di kiri dan permadani rumput dihiasi bunga-bunga liar beragam warna di sisi kananku, oh God!! Simple but beautiful, sejenak aku berhenti di tepian jalan, aku turun dan membiarkan si bebek biru istirahat sejenak, aku merebahkan tubuhku di sisi kanan, memandang langit yang saat itu terlihat begitu enggan berseri. Apakah mereka sedih karena tak diperhatikan? Dan aku nyaris melewatkan momen ini jika aku terus melihat ke depan.

         Entah berapa lama aku berhenti, tapi perjalanan harus tetap dilanjutkan. Baru beberapa belas kilometer aku menyisir kembali halaman jalan raya, tiba-tiba ada sebuah panggilan yang kusadari, hasrat yang tak tertahankan. Berteduhkan langit yang mendung, berselimutkan hawa dingin yang menggelitik, ditambah buaian lembut bebek biru membuatku semakin terpanggil untuk memenuhi hasratku, tapi dimana? Kiri kanan kulihat saja, ada pohon cemara dan rerumputan yang akan menyambutku, tapi ditonton oleh puluhan orang yang berlalu lalang, entahlah. Kemudian aku teringat, sekitar 4 menit perjalanan dari sini akan ada pom bensin, dan pasti di sana ada ruang eksklusif untuk menampung hasratku, maka tanpa ragu-ragu akupun segera menuju ke sana. Bagi para traveller pasti pernah merasakan dan mengerti betapa leganya perasaanku 10 menit kemudian, seperti melewati batas antara surga dan neraka.

         Kurasa... hidup ini juga sama seperti perjalananku, banyak hal yang dirangkum menjadi satu dalam perjalanan jika kita mau merenungkannya. Dalam segala hal, seperti misalnya kota kecilku, rumah keduaku, pasti ada baik dan buruk, kurang dan lebih, ada kenangan bahagia dan sedih, tergantung pilihan kita untuk melihat yang menguatkan... atau melemahkan. Sebagaimana perjalanan menuju ke suatu tempat, hidup kita juga pasti memiliki mimpi, cita-cita, harapan yang membuat kita terus melaju apapun hambatannya, tapi saat kita terlalu fokus pada tujuan, kita tidak mengerti apa yang ada di sekitar kita, tidak menghargai apa yang kita miliki saat ini, seperti rerumputan dan padi yang menari menghantar kepergian kita. Seringkali kita ragu mengenai apa yang terjadi dalam hidup ini, terlebih lagi saat banyak tekanan menghimpit dan menyesakkan, semua itu karena kita tidak tahu apa yang ada di depan, tidak seperti aku yang mengetahui akan ada pom bensin di depan sehingga aku berani memacu bebek biruku dalam keadaan terdesak hasrat.

         Sial MOGOK!!! Terlalu banyak berpikir membuatku lupa untuk mengecek kesehatan si bebek biru, aku lupa kapan terakhir kali aku memeriksakannya di puskesmas motor, atau kapan aku menyuntikkan angin di kaki-kaki bulatnya, atau paling parahnya... aku lupa memberinya makan dengan cairan premium. Aku baru ingat ketika awal perjalanan aku melihat fuel meter, dan itu mendekati huruf E yang artinya empty atau kosong, bodohnya aku. Sebegitu bijaknya aku merenungkan hidup sampai lupa aku mengisi bensin sehingga akhirnya aku diberhentikan paksa d tepi jalanan. Well... and you know, aku kembali belajar dari ini semua, sebagaimana kita berusaha keras dalam hidup ini tapi kita lupa menjaga diri kita, lupa menjaga kondisi tubuh pemberian Tuhan, sehingga kita harus diberhentikan paksa oleh rasa sakit, pilih mana?

Be wise, this is my story, and time to continue my journey.

Minggu, 05 Agustus 2012

Children's Cry


"Children see children do, and of course their parents are what children see most."

         Mama papa bertanya darimana aku belajar menyakiti dengan perkataanku? Darimana aku belajar membanting pintu? Darimana aku yang masih kecil belajar mengatakan kepalsuan? Kenapa aku mencuri uang kecil yang ada di laci? Kenapa aku selalu berkeliaran dengan anak kampung yang nakal? Kenapa aku tidak pernah mendengar nasihat kalian? Mama papa selalu bertanya padaku dengan lecutan rotan yang panas, dengan nada dan irama yang menyesakkan hati, tapi pernahkah mama papa mendengarkan jawabku?
         Masih ingatkah papa ketika mengata-ngatai mama sampai menangis hanya karena kehilangan dompet dan uang belanja? Atau ketika mama membanting pintu gudang dan mengurungku di dalam kegelapan ketika aku memecahkan piring kesayangan mama? Atau tahukah mama papa saat aku mengatakan lapar tapi mama papa terlalu sibuk dengan nota-nota dan kertas tagihan? Aku ingin merasakan kehangatan d rumah, yang kurasakan itu bersama teman-temanku yang bebas di jalanan. Aku ingin mama papa mmelukku di saat aku sedih, bermain bersamaku di saat aku senang, makan bersamaku di saat aku lapar, tapi...
         Mama papa mendidikku dengan keras dan mengharapkan aku berhati lembut? Mama papa menghajarku dan berharap aku menjadi penyayang? Mama papa selalu mengajukan pendidikan sekolah, kuliah, atau ibadahku di gereja sebagai alasan bahwa ak harus menjadi baik, tapi tahukah bahwa mama papa adalah teladan pertamaku? Apa yang aku pelajari, bagaimana aku bersikap, bagaimana aku berbicara, kita bagai bayang dalam cermin bukan? Jangan membanggakan diri kalian atas aku di saat aku berhasil tapi menimpakan semua beban kesalahan di saat aku gagal, seolah aku anak buangan. Aku mencintai kalian dan aku ingin dicintai oleh mama papa juga.
         Mama papa selalu mengatasnamakan cinta atas semua yang kalian lakukan padaku, tapi pernahkah mama papa mngerti apa yang kurasakan? Cinta itu hanya bisa disentuh oleh perasaan, tapi yang mama papa pikirkan dan kerjakan bukan sesuatu yang kurasakan itu cinta. Mama papa selalu memaksakan padaku apa yang menurut kalian benar, tapi bukankah mama papa manusia yang bisa salah? Bukankah aku yang harus menjalani semua, aku tertekan, dan aku ingin berteriak, dan aku ingin menangis. Mengertilah.... kumohon mengertilah... aku tak ingin seperti ini, ajarkan aku kebaikan, kelembutan, kesabaran, pengertian, teladankanlah padaku, lebih dari ribuan nasihat kosong.
         Tak sadarkah anda bahwa hampir 100% anak yang bermasalah dalam lingkungannya, menjadi pelaku kekerasan, pemakai obat-obatan, seks bebas, koruptor, penipu, bahkan korban bunuh diri, memiliki hubungan yang gelap, jauh, dan suram dengan keluarganya, orang tuanya, mama papanya. Tidak ada anak yang terlahir jahat, satu pun tidak, semua hanya karena salah asuhan. Cintailah anak anda, belajarlah bagaimana mendidik mereka dengan benar, dan jadilah teladan, agar bibit-bibit yang anda pegang tidak menjadi benalu di kemudian hari, biarkan mereka menjadi pohon besar yang bertahan dari kemarahan angin dan hujan sampai saatnya pelangi tersenyum dan matahari merekah.

This is my story, how about you?

Senin, 23 Juli 2012

Mari ikut menentukan sikap pasangan.

"Kita ikut menentukan bagaimana sikap pasangan pada kita."
         Zaman sekarang sudah jarang banget ada cow baik, ya, kenapa? Karena kita cow juga ngerti kalau kebaikan itu nomor sekian yang dihargai oleh cew, yang sekarang diutamakan adalah kemapanan (at least begitulah pandangan banyak cow yang aku tahu), bahkan cow nakal yang suka menggoda dianggap lebih menarik oleh cew. That's why hargailah kebaikan dan pengorbanan yang cow mu lakukan untukmu di samping mendorongnya untuk menjadi mapan.

         Cew-cew sekarang matre semua, sedikit-sedikit duit, ya, kenapa? Yah tuntutan lingkungan, sekarang segala sesuatunya butuh duit, dan pengalaman mengatakan melanjutkan hubungan dengan cow yang ngga mapan-mapan itu selalu berakhir dengan penderitaan, jadi ya harap dimaklumi kalau sekarang materi itu penting. That's why, pantaskanlah dirimu untuk cew yang kamu sayangi, setidaknya untuk membahagiakannya tidak cuma dengan cinta, tapi juga segepok duit belanja.

         Well katakanlah ada sebab ada akibat, hukum seleksi alam oppa darwin masih berlaku sampai sekarang. Ada cow yang ngambek karena cew nya dideketin ma cow lain, setelah diselidiki selama berdetik-detik melalui kesaksian kedua belah pihak, ternyata si cew merasa dicuekin dan disamaratakan dengan cew-cew yang diakui cownya sebagai "temen", siapa yang salah? Ada cew yang ngrasa kalau cownya ngga perhatian banget, cuek setengah mati, setelah ditelusuri jejak pengakuannya, ternyata selama ini si cew ngga nggubris kalau diperhatiin, sampe akhirnya si cow males, well... sapa coba yang salah?

         Ada yang mengatakan cew dan cow itu seperti venus dan mars, satunya logika yang satu perasaan, tapi kita kan ktemu dan jadian di bumi? Kenapa ngga saling mengalah dan menyesuaikan? Apapun yang kita lakukan satu sama lain pasti akan menimbulkan efek. Kenapa cow hanya suka nggombal di awal jadian, tapi serasa hambar seriring waktu? Karena respon cew juga semakin hambar seiring waktu, buat apa kita nggombalin cew yang udah bosen digombalin? Ada cow yang semakin bosen dengan penampilan cew nya yang kusut kucel kumel dan ku-ku lainnya, tapi kalau disuruh nunggu cew nya mandi, perawatan, dan dandan ngga mau, ngebeliin cew nya pakaian atau perhiasan ngga pernah, bego!! Itulah yang aku maksud dengan ikut menentukan sikap pasangan kita, jika ingin disayang bersikap dan bertindaklah supaya anda pantas disayang.

This is my story, how about you?

Jumat, 20 Juli 2012

Ketika aku berbeban berat... (Curhat malam)

         Yeah... mereka yang mengenalku pasti mengerti, ketika aku mulai banyak menulis, atau mengupdate status di jejaring sosial, itu berarti aku sedang GALAU atau apalah itu artinya. Tapi memang benar ketika pikiran dan perasaanku terlalu penuh meluber, entah oleh ide, kebahagiaan, atau persoalan, aku membutuhkan sesuatu untuk meringankannya, untuk mengungkapkannya, salah satunya adalah dengan menulis, sekedar mencoret-coret atau menggambar, atau membuat sesuatu, atau berusaha membantu seseorang dengan masalah mereka, anything i can do.

         I am a complicated person, i realize that, ada saatnya aku mudah untuk mengungkapkan sesuatu, melupakan sesuatu, mengabaikan sesuatu, sesuatu seperti kenangan, kesenangan, ambisi, rahasia orang lain yang nyasar ke telingaku, dan lain-lain, termasuk masalah hidup. Tapi ada saatnya dimana aku benar-benar memendam sesuatu itu jauh ke dalam kotak pandora dalam diriku, sampai suatu saat seseorang atau sesuatu berhasil menemukan kunci yang tepat untuk melepaskan apa yang kusimpan di kotak pandoraku.

         I admit that i am just a childish boy who try to be a man. Aku punya batasan layaknya manusia normal lain, tak selamanya aku selalu benar, tak selamanya aku selalu kuat. Terkadang beban ini terasa begitu menghimpitku sampai aku enggan bergerak. Masa laluku tak sempurna, ada cacat di sana sini, hidupku sekarang hanya dalam batas cukup, tidak berkelebihan, aku tak punya ambisi atau cita-cita yang besar, ataupun kemampuan khusus yang membuatku dibanggakan, tapi aku selalu berusaha bersyukur pada Bapa yang memberiku segala sesuatunya sampai saat ini, termasuk hidupku.

         Aku ingin membahagiakan orang yang ada di dekatku, aku ingin melakukan yang terbaik untuk mereka, tapi terkadang aku tak mampu, semuanya terasa berat. Dan ketika semua yang kulakukan seakan tidak berguna dan berubah menjadi sebuah kesalahan, itupun juga yang kurasakan pada diriku, useless. Akhir kata, aku lelah, pikiran ini lelah, perasaan ini lelaaaaaaaah, aku akan kerjakan apa yang bisa kukerjakan dan akan kuserahkan semua yang tak dapat kukerjakan pada-Nya, biar Bapa yang mengerjakan bagian-Nya, apapun yang harus terjadi, terjadilah, I JUST WANT TO LIFE A SIMPLE HAPPY LIFE, THAT'S ALL.

This is my story, how about you?

Minggu, 01 Juli 2012

Kenangan sang kakek tak bernama.

Aku berputar melihat sekelilingku, tak di kanan, di kiri, bertebaran, berserakan
Kotak besi di mana-mana, ditunggangi para diktator, mengepulkan asap hitam bau
Sang angin yang semakin panas oleh amarah, oleh riuhnya persaingan
Orang-orang berlalu lalang bersilaturahmi dengan aktivitas, sangat akrab, terlalu akrab
Tak ada lagi tegur sapa hangat, hanya lengkingan klakson yang membakar hati
Pepohonan menjulang tinggi dan besar, bukan dari kayu dan daun, tapi kaca, semen, dan beton

Kututup mataku, mengenang masa perjuangan saat masih hitam dan putih di atas kertas
Ah, masih terasa kerasnya bangku kayu kecil di atas teras sempit di samping taman rumah
Menghirup aroma secangkir teh dan rerumputan yang bermandikan embun pagi
Merasakan hangatnya si tua yang selalu hadir di pagi hari menyelimuti kulitku
Aku teringat untaian jerami dan dedaunan yang dibuat bapak burung d pohon manggaku
Akankah cucu-cucu nya sedang merindukan masa yang sama denganku?

Aku rindu dengan senyuman manis yang menyambutku di akhir mimpi
Sekarang aku harus berlomba dengan ayam jago untuk melihat senyum kecut tergesa
Dahulu, keringat harus diperas dan pinggang harus dipuntir untuk segala sesuatunya
Tapi kami masih sempat meniup kepulan kopi panas di malam hari, bersama sang terkasih
Sekarang mereka bilang semua serba auto, banyak kemudahan dari bung teknologi
Tapi sempatkah kalian menyantap semua kenangan yang pernah kami racik?

This is my story, how about you?

Jumat, 29 Juni 2012

The chosen, not the choices

The one who loves you will choose you, not let you be the choices. (orang yang mencintaimu akan memilihmu, bukan menjadikanmu pilihan)
         Orang yang serius dengan pencarian pasangan hidup akan membuka pintu audisi selebar-lebarnya kepada setiap lawan jenis yang ada di sekitarnya, seperti scanner yang akan membaca setiap detail yang dapat terlihat dan filter yang akan menyaring syarat-syarat yang ditentukannya, semacam seleksi alam untuk mencari yang berkompetensi dan lolos kualifikasi gitulah. Tapi proses ini seharusnya berhenti saat kita menemukan seorang kandidat yang mungkin sesuai dengan kebutuhan kita, untuk memastikannya maka kita melakukan semacam quality control yang disebut pacaran. Pacaran adalah masa penjajakan/percobaan dimana kita berusaha untuk saling mengenali dan menyesuaikan diri dengan pasangan kita, ini adalah masa dimana dia adalah yang terpilih, yang mana bersama dirinya, kita berniat untuk melanjutkan hubungan lebih lanjut jika syarat dan ketentuan yang berlaku terpenuhi. Sayangnya banyak orang yang tetap melakukan proses audisi dan seleksi terbuka selama pacaran sehingga mindsetnya dalam pacaran berubah.

         Kita semua tahu bahwa dalam setiap audisi dimana peserta atau kandidatnya banyak, maka proses eliminasi akan berlangsung dengan mudahnya, tidak perlu terlalu banyak pertimbangan karena masih banyak pilihan yang lebih baik, semakin banyak kandidat semakin mudah eliminasi dilakukan, begitu juga dengan relationship. Jika kita pacaran dengan mindset "pasangan kita adalah yang terpilih (sementara)" maka kita akan sangat hati-hati dalam memperlakukannya, berusaha untuk lebih mengerti, berusaha menyesuaikan diri, dan eliminasi hanya akan terjadi saat kita benar-benar sampai pada titik yang tidak bisa disatukan. Jika mindset kita "pasangan adalah pilihan dan masih banyak yang menanti di luar sana" (meskipun memang demikian kenyataannya) maka saat ada masalah atau sedikit ketidakcocokan, kita akan dengan mudah memilih untuk putus, berhenti, menyerah, ganti pasangan, tanpa berusaha untuk melakukan penyesuaian atau menambah pengertian.

         "Lah aku ngga seperti itu koq, aku setia ma pacarku, si ini kan cmn tak anggep ko2/ka2k ku aj, si itu kan cmn temen kecilku, si A itu cmn temen kuliah, si B cmn temen ngobrol aj." Tapi kenyataan yang sering terjadi adalah "temen" jadi "demen". Jika kita terlalu banyak dekat dengan lawan jenis yang "menarik dan terasa lebih perhatian" maka saat ada masalah dengan pasangan kita, tanpa sadar kita akan mendekat kepada mereka, hanya sekedar curhat, chat, sms, telp-an, atau mungkin dolan supaya ngga terlalu kepikiran tapi saat itulah proses audisi dan seleksi kembali terjadi, dan pasangan kita bukan lagi "the chosen" tapi hanya sekedar "one of the choices". Yah, terserah apakah kita mau mengakuinya atau tidak, mungkin tidak semua orang seperti ini, tapi banyak kasus yang sering kutemui sepanjang perjalanan (Bgm : Berita Kepada Kawan - Ebiet G. Ade). Dan termasuk yang manakah anda? It's your choice, you decide.

Jangan mencobai pasanganmu dengan banyaknya lawan jenis di sekitarmu.

This is my story, how about you?

Rabu, 13 Juni 2012

Berpisah sebelum menjadi buruk?!


         Dahulu ada seorang bijak yang mengatakan... "Jika kau ingin menyimpan hanya kenangan indah saja mengenai seseorang, maka berpisahlah sebelum kenangan buruk terjadi." Makna dari kata-katanya cukup sederhana koq, semakin lama kita bersama seseorang maka kita juga akan segera menemukan sisi buruknya, berpisahlah saat anda masih bahagia, maka anda akan berakhir seperti sebuah kisah dongeng klasik, "happily ever after and ALONE!!" A perfect goodness is impossible to find in the earth, it's just the matter of time until you find the truth.

         Udah pernah nonton shrek kan? Awal yang buruk tidak selalu selamanya berakhir buruk, bahkan akhir yang indah merupakan awal bagi kisah lainnya yang bisa saja buruk. Kenapa shrek dibuat sekuelnya adalah untuk menunjukkan hal itu, selama ini kita menganggap akhir yang indah dari sebuah kisah adalah tulisan happily ever after, tapi kita ngga tau apa yang terjadi setelahnya, bagaimana jika pangeran erik ternyata selingkuh, atau belle ketahuan hamil duluan di luar nikah, atau kalau ternyata si sleeping beauty benar-benar si gadis malas yang dibenci mertua hahaha...

         Semua kisah yang dibuat sekuelnya selalu menguak suatu problematika yang baru setelah akhir yang bahagia dan itulah yang menjadi bumbu dalam sebuah kisah hahaha... Pernahkah menonton suatu film yang tidak ada problemnya? Semua tokohnya non antagonis alias jiwa malaikat semua, kalau aku sih kayaknya segera terbang ke surga kapuk nonton film begituan, BOSEN oi. Karena itu berterimakasihlah pada mereka yang membuat hidupmu bermasalah, karena merekalah yang membumbui hidupmu hahaha...

          Semua itu hanyalah masalah persepsi, you have the choices and the right to make decision, and decide what kind of story you life in. Hidupku akan tetap menyenangkan meski banyak masalah berhamburan, tersenyumlah dari hati dan semua akan terasa lebih baik daripada saat kita menggerutu. Terkadang saat tak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikan masalah kita, lakukanlah sesuatu untuk membantu orang lain dan jalan keluar akan menampakkan batang hidungnya bagimu.


This is my story, how about you?

Jumat, 08 Juni 2012

Tips dan Trik Khusus Mahasiswa Ruwet!!


         Pengalaman interview kemarin bener-bener berkesan, well... karena sensasi itu terakhir kurasakan saat sidang skripsi tahun lalu, jadi kali inipun lebih seperti nostalgia dengan masa lalu wkwkwkkw... Betapa kurangnya kemampuanku membuatku sadar, jika aku lolos berarti ada sesuatu yang berbeda dari diriku dan itu menarik perhatian mereka untuk menerimaku, dan akhirnya... kubuat juga “Tips dan trik untuk berhadapan dengan orang (dosen, klien, atau orang yang lebih otoriter) dalam keadaan tanya jawab (interview, presentasi, sidang, atau apalah) khusus mahasiswa ruwet.”

  1. Pastikan anda tidak terlalu banyak belajar, karena itu akan membuat ketegangan meningkat dan membuat konsentrasi anda buyar
  2. Usahakan jangan minum kopi karena jantung akan berdetak lebih kencang dan mebuat anda lebih gugup daripada biasanya, lagipula susu lebih sehat
  3. Jaga penampilan saat berada d depan, jangan sampai penampilan anda sehancur otak anda, begitupun bau nafas anda, cool calm and confidence
  4. Senyumlah yang tulus agar terlihat ramah, dilarang nyengir sinis, tertawalah sesekali untuk menunjukkan bakat humor anda, jangan sampai muka anda seperti sandal lawas kecemplung got
  5. Bicaralah dengan tenang, sopan, lugas, tepat sasaran, santai dan jangan terlalu formal, ingat tepat sasaran, jangan seperti bakul pasar jualan ikan
  6. Jangan mulai menyulut api dengan mengeluarkan statement atau istilah-istilah yang akan menyusahkan anda, ingat, orang di hadapan anda mudah terbakar dan anda akan menerima akibatnya
  7. Ambil kesempatan untuk menunjukkan karakter anda pada saat ada pertanyaan yang mudah, tunjukkan betapa pandainya anda memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan
  8. Untuk pertanyaan sulit, jawablah sejauh yang anda tahu, sebanyak-banyaknya, kemudian gunakan jurus amnesia atau hilang ingatan, itu akan lebih elegan daripada langsung mengaku kalau anda bodoh
  9. Debatlah kalau anda merasa benar atau merasa orang di depan anda salah, tapi ingat-ingat batas kesabaran orang itu beda-beda, mengalahlah saat suasana terlalu tegang
  10. Berterima kasihlah setelah selesai dan bersikaplah sok kenal dengan para pembantai anda, karena itu akan menambah nilai anda sebagai orang baik
         Ingat aturan dan ketentuan yang berlaku, hasil juga akan berbeda-beda pada setiap orang, tergantung pemakaian dan penerapan tips dan trik di atas, selamat mencoba dan semoga berhasil menarik perhatian. 
This is my story, how about you?

Kamis, 07 Juni 2012

It is very ADDICTED!!

         "Kamu tahu konsekuensinya jika kamu memilih ini? Sudah kamu pikirkan baik-baik jawabanmu?"

         Inilah salah satu pertanyaan yang paling membuatku berpikir saat interview kerja kemarin. Ada orang yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan ringan, ada juga yang berpikir jauh sebelum menjawabnya. Kenapa? Coba anda bayangkan sebuah lemari, saya pribadi secara sederhana akan membayangkan sebuah benda kotak dari kayu dan tengahnya bolong, tapi tahukah bahwa lemari bagi seseorang mungkin adalah sebuah "ruang" untuk menyimpan berbagai perhiasan, sepatu, baju, boneka, dan lain-lain. Yep, lagi-lagi perbedaan sudut pandang dan cara berpikir, HUMAN IS UNIQUE, kita ngga bisa nge-judge seseorang itu salah hanya karena dia berpikir beda dari kita.

         Kembali lagi ke topik, setelah pertanyaan itu kujawab, aku menyadari betapa lemahnya posisiku saat itu, kalian pasti tahulah nasib para figuran dalam film laga, yang sudah tahu akan kalah dari si tokoh utama tapi tetep aja berusaha melawan karena tuntutan skenario, yaa... bonyok deh. Sesaat kemudian aku seperti melihat tulisan berjalan pada etalase toko, "seandainya", yak ini dia kelemahan manusia, selalu menyesali masa lalu, kegagalan, kesalahan, kekurangan, kepahitan, dan masih banyak lagi sejenisnya yang akan membuat kita mabuk, nge-fly, kemudian ketagihan untuk terpuruk dan menyalahkan keadaan. Apakah itu yang terbaik? (ngutip dari tulisan seseorang)

         Pernah ngliat tree of decision? Itu adalah gambar pohon yang bercabang-cabang sejak keputusan pertama yang kita ambil, di tiap akhir dari cabang itu menanti sebuah konsekuensi yang akan dilanjutkan dengan cabang-cabang lainnya, begitu terus sampai pada garis yang disebut END (itulah akhir hidup kita). Saat kita berkata seandainya aku dulu begini begitu, coba pikirkan konsekuensi yang menunggu kita di akhir keputusan kita, dan itu masih akan terus bercabang dan berlanjut. Apakah kamu yakin kalau kata "seandainya" itu terjadi, hidupmu akan lebih baik dari sekarang? Atau kamu akan semakin mabuk dan ketagihan dengan keterpurukan yang lebih maknyus?

         Well, that is life, and life must go on, he won't waiting for you to raise when you're down. Aku hanya percaya bahwa apapun yang telah aku putuskan, itulah yang terbaik untukku dan apapun konsekuensinya mau tidak mau itulah skenarioku, aku hanya perlu terus bangkit dan maju apapun masa laluku, bersyukur untuk setiap apa yang kumiliki dan setiap keadaan yang ada di sekelilingku. HE is the one who will help me to face every consequence of my decision as long as I rely my life to HIM. So... masih pengen mikir-mikir lagi?

This is my story, how about you?