Senin, 02 April 2012

"Pendidikan menghancurkan mental Bangsa?"

Pendidikan adalah sebuah pedang bermata dua, dapat menyelamatkan atau semakin menghancurkan.

         Ironis memang, tapi itulah kenyataan yang saya alami (memasuki sesi curhat), mungkin kalimat itu belum berlaku untuk pendidikan setara taman kanak-kanak, tapi sejak terjun ke sekolah dasar kita pasti sudah dapat menikmati gejala-gejalanya. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk menuntut ilmu dan penanaman nilai-nilai kehidupan, justru sekarang menjadi ajang pencarian nilai dan sekaligus tempat pembuangan uang. Hemm... sample mudahnya adalah pelajaran agama dan PPKN (pendidikan pancasila dan kewarganegaraan), pernah sesekali aku coba bertanya apa yang mereka dapatkan dari pelajaran itu, dan jawabannya relatif sama, "Banyak kak! Banyak banget materi yang harus dihafalin." Hah?! Dihafalin? Penerapannya gimana? Lantas mau dibawa kemana nilai-nilai moral, budi pekerti luhur, kerohanian yang harus ditanamkan? Tenang... sebagai gantinya banyak koq nilai-nilai yang seringkali "dibiasakan" sejak kecil, silahkan dicermati dan anggukkan kepala anda.

         "Banyak teori dan sedikit praktek. Pengetahuan itu penting!" Yak inilah pelatihan untuk mencetak warga negara kritis dan puitis, banyak omong sedikit bertindak, full of statements without action. Nilai ini bisa dibilang cukup sukses menjamur di negara kita, bisa dilihat figur-figur politikus yang sangat pandai mengumbar janji dan ngeles saat dimintai pertanggungjawaban dan bukti nyata. Andaikata seorang melankolis berhasil menjadi kader politik dalam D*R mungkin dia akan berkata begini "Kami memikirkan nasib rakyat! Hiruk pikuk dalam ruangan sidang mengganggu konsentrasi kami sehingga kami sulit berpikir, karena itu kami harus tidur saat sidang, alam mimpi JAUH LEBIH TENANG." Tapi sayangnya, pendidikan saat ini sudah mulai menerapkan banyak praktek walaupun belum secara merata, jadi mungkin nilai ini bakalan sedikit berkurang di masa mendatang.

         "Intimidasi dan kekerasan itu sah! Lebih cepat lebih baik." Masih perlu dipertanyakankah kenapa bangsa kita relatif lebih sehat, aktif, ceria, anarkis, agresif, dan brutal? Ambillah contoh supporter sepak bola, sementara banyak negara lain berlomba-lomba untuk menunjukkan semangat, sportifitas, dan kreatifitasnya dalam mendukung team kesayangannya, supporter kita malah berusaha mempromosikan produk-produk dalam kemasan botol dan kaleng, teknologi canggih sinar laser, dan otot hasil latihan sebagai kuli panggul, mengesankan! Kenapa begitu? Karena survey membuktikan bahwa intimidasi dan kekerasan berhasil menunjukkan reaksi yang lebih cepat daripada didikan dan nasihat (ibarat obat nyamuk, cukup skali semprot langsung tewas seketika). Alhasil para pendidik yang "cerdas" pun akan menggunakan cara ini untuk "menjinakkan" anak-anaknya, maka silahkan petik buahnya pada generasi mendatang.

         "Gapailah tujuan apapun caranya. Manfaatkan kesempatan dalam kesempitan." Nilai paling kecil harus 7, skor minimal harus B, IP ngga boleh kurang dari 3, Mata pelajaran A B C D ... Z harus bisa tuntas semua, ayok-ayok kejar setoran, kalau gagal ngga lulus, ngga bisa lanjut sekolah, ngga bakal dapet kerjaan yang baik! Di Indonesia, kurikulum cenderung dipaksakan dengan konsekuensi yang berat tapi tanpa bimbingan yang tepat. Contoh kurikulum yang dipaksakan : Seberapa banyak dari anda yang mengerti bagaimana kita menerapkan LOGARITMA dalam kehidupan sehari-hari? Atau pernahkah anda teringat pada derajat bujur dan lintang berapakah negara kita berada? Jadi... kenapa ya dulu kita mencontek atau memaksa teman kita memberi jawaban? Karena kita terlalu dituntut untuk mencapai tujuan tanpa memperhatikan proses yang tepat. Kecurangan yang kecil adalah benih yang akan tumbuh dan berkembang menjadi kecurangan-kecurangan besar. Masih mau tahu kenapa banyak praktek KKN di negara kita? Sudah pasti jawabannya: UNTUK MENCAPAI TUJUAN (tapi dengan cara yang salah).

         "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga." Ini adalah yang terakhir yang akan kubahas sekaligus yang paling dahsyat!! Sejak awal dasar pendidikan kita dibangun, ini adalah quote, sumpah serapah, kata-kata iman, trademark, atau apalah istilahnya, yang sudah diukirkan dalam sanubari kita anak-anak muda, bahwa kita "akan" meniru perbuatan buruk atau kesalahan buruk dari guru kita dengan LEBIH BURUK lagi. Padahal guru juga manusia yang pasti akan ketahuan buruknya suatu saat, jadi.... Waw!! Benar-benar akan menjadi generasi penerus yang penuh kemajuan wkwkkw... Kira-kira 10 tahun lagi mau jadi bangsa seperti apa kita kalau itu beneran diterapkan? (parah -_-a). Suatu saat kita akan menjadi pendidik-pendidik di masa depan, jika kita tidak mau berubah dan tetap mengikuti keburukan guru kita di masa lalu, maka anak-anak kita juga sudah pasti adalah korban selanjutnya.

         Akhir kata, yang aku tuliskan di atas memang bukanlah kebenaran global (tidak semua pendidik seperti demikian), tapi masih banyak kutemukan di masa sekarang ini. Aku berterimakasih pada guru, dosen, instansi pendidik lain, dan bahkan orang tua yang masih mengajarkan nilai-nilai kebaikan bagi generasi muda. Berarti sekarang saatnya kita yang belajar untuk melakukan perubahan, jangan berharap anda akan dapat mengubah orang lain saat anda sendiri masih bersaing dengan kealotan daging kambing tua yang dijadiin sate. Thanks for reading :p

This is my story, how about you?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar