Kotak besi di mana-mana, ditunggangi para diktator, mengepulkan asap hitam bau
Sang angin yang semakin panas oleh amarah, oleh riuhnya persaingan
Orang-orang berlalu lalang bersilaturahmi dengan aktivitas, sangat akrab, terlalu akrab
Tak ada lagi tegur sapa hangat, hanya lengkingan klakson yang membakar hati
Pepohonan menjulang tinggi dan besar, bukan dari kayu dan daun, tapi kaca, semen, dan beton
Kututup mataku, mengenang masa perjuangan saat masih hitam dan putih di atas kertas
Ah, masih terasa kerasnya bangku kayu kecil di atas teras sempit di samping taman rumah
Menghirup aroma secangkir teh dan rerumputan yang bermandikan embun pagi
Merasakan hangatnya si tua yang selalu hadir di pagi hari menyelimuti kulitku
Aku teringat untaian jerami dan dedaunan yang dibuat bapak burung d pohon manggaku
Akankah cucu-cucu nya sedang merindukan masa yang sama denganku?
Aku rindu dengan senyuman manis yang menyambutku di akhir mimpi
Sekarang aku harus berlomba dengan ayam jago untuk melihat senyum kecut tergesa
Dahulu, keringat harus diperas dan pinggang harus dipuntir untuk segala sesuatunya
Tapi kami masih sempat meniup kepulan kopi panas di malam hari, bersama sang terkasih
Sekarang mereka bilang semua serba auto, banyak kemudahan dari bung teknologi
Tapi sempatkah kalian menyantap semua kenangan yang pernah kami racik?
This is my story, how about you?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar