Selasa, 28 Agustus 2012

Eiffel, I'm not lovin you.


Kamu suka eiffel kan? Aku akan membawamu ke sana sekarang, yuk cepet berangkat.
Begitulah kata laki-laki yang kini ada di hadapanku. Senyum ketulusan tergambar sangat jelas di wajahnya yang kotak, dia menarik tanganku dengan lembut menuju ke arah motor birunya. Ya dia adalah pacarku, Dio, dan setahuku ko Dio belum lama bekerja di salah satu perusahaan elektronik dan kurasa tabungannya akan habis jika kami ke Perancis sekarang, aku ngga mau itu terjadi.

Ya aku memang sangat menyukai eiffel, aku suka Perancis, aku suka melihat arsitektur mereka yang indah, terutama eiffel, sangat romantis dan serasa penuh cinta. Tiap kali aku melihatnya dalam film-film yang kutonton aku selalu bermimpi dapat terbang ke sana suatu hari nanti, mengikat janji sehidup semati dengan eiffel sebagai saksi, so sweeettt...

Sebentar ko, aku belum siap, aku belum bikin passport, aku belum pamitan, belum packing, aku belum... banyak ko, bahkan aku belum mandi.
Kataku pada ko Dio sembari menarik tanganku. Wajahku terasa panas saat mengatakannya, meski kami telah berpacaran satu setengah tahun, tapi mengakui bahwa aku masih kucel dan melihatnya tertawa kegelian adalah hal yang memalukan bagiku.

Percayalah padaku, kamu akan tetap cantik di mataku, meski sejujurnya aku berharap kamu sudah mandi non hahaha... Ayo... kita terburu waktu.
Kata ko Dio sambil menahan tawa dan melihat jam di tangannya, itu hadiah pertamaku di ulang tahunnya yang kedua puluh empat,  wajahnya terlihat agak tergesa-gesa, membuatku semakin penasaran.

Akhirnya kuiyakan ajakan ko Dio, dalam hitungan detik aku berlari ke kamarku, segera kuambil jaket kain putih yang biasa kupakai bepergian, aku suka bagian bulu-bulu putih halus yang tersemat di jaket ini, kubawa tas tangan kecil serba ada ku, dan kukantongi hp kecil flip kesayanganku di celana jeans pendek yang kukenakan sejak pagi.
Aku pergi sebentar mam pap!
Begitu saja pamitku sambil berlari sebelum interogasi membuatku dan ko Dio terlambat ke tujuan kami, ke mana pun itu.

Akhirnya berdua kami menyisir jalanan menuju ke "eiffel" nya ko Dio, sepanjang perjalanan aku memeluk ko Dio dan menyandarkan kepalaku ke punggungnya, tercium aroma tubuhnya yang khas bercampur dengan aroma parfum chocolate favoritnya. Hangatnya tubuh ko Dio, sejuknya angin yang membelai lembut pipiku, dan celotehan si koko yang tak jelas menyelinap melalui celah-celah helm, membuat mataku terasa sangat berat, kueratkan pelukanku agar aku tak terjatuh, kemudian perlahan memasuki alam bawah sadarku.

Lama kemudian terdengar suara lembut yang nenggetarkan dari balik kegelapan.
non... nooon... nonik... WOI NON!!
Dan aku pun kaget dan terkesiap karena ditarik paksa keluar dari alam bawah sadarku. Aku merasakan genggaman erat ko Dio, dia memegang erat tanganku agar aku tak jatuh saat terbangun.

Hehehe... maaf ko, habisnya nyaman banget, pas buat bobo siang hehehe...
Kataku sambil tertawa kecil. Ko Dio tiba-tiba memutar pinggangnya menghadap kepadaku, kemudian mendekatkan tangannya ke wajahku. Jari-jarinya yang agak kasar menyentuh bibirku, mengusapnya ke kanan, ke kiri, ke kanan, kekiri sampai akhirnya aku tersadar kalau ternyata aku ngiler saat tertidur, duh malunya aku. Kuusapkan lengan jaketku ke muka ku yang mungkin merona merah padam seperti tomat saat ini.

Kita udah sampai non, sedikit terlalu awal sih, tapi tak apa, kita bisa beristirahat sejenak sebelum naik.
Kata ko Dio sambil sesekali melihat jam tangannya dan ke arah langit yang memerah, sepertinya aku melewatkan perjalanan yang cukup panjang saat aku tettidur, senja mulai membuka tirainya dan sepertinya waktunya si mentari terbenam ngga akan lama lagi.

Duh aku baru teringat dengan wajahku yang pasti tambah kucel, harus segera mencari tempat make over nih. Aku melihat di hadapanku berdiri sebuah bangunan bertingkat, tua, dengan gaya arsitektur yang agak kebarat-baratan, tidak ada tulisan apapun di depannya, tapi lampunya menyala, dan pintu kaca di depan bertuliskan "reserved". Apakah ko Dio ingin membawaku ke sini?
Kita udah sampai ko? Masih ada waktu kan? Ada toilet ngga deket sini? Nik pengen pipis  hehe...

Ko Dio hanya tersenyum kemudian mengangguk.
Yap, kita sudah sampai, masuklah duluan, koko parkir motor dulu sebentar, di sebelah kanan dari pintu masuk ada toilet, trus di samping tangga di sebelah kiri ada beberapa tempat duduk, tunggulah di sana kalau sudah selesai non, koko segera nyusul.
Begitu katanya si koko, akupun turun, melambaikan tangan, kemudian bergegas lari ke arah toilet yang dikatakan ko Dio.

Setelah pintu masuk belok kanan, aku menemukannya, pintu ladies dengan gambar orang pakai rok, akupun segera menerjang masuk mencari wastafel dan mengucurkan air, membasahi wajah dan leherku, sedikit membasuh rambutku yang lepek terkena debu dan panas. Kuambil tissue dari tas kecil serba adaku untuk menyeka air dan keringat, tambahkan sedikit bedak dan perona wajah, kulukis garis tipis di lipatan mataku dan alis, kemudian oleskan lipgloss dan semprotkan sedikit parfum sugar candy di tubuhku. Kuperhatikan baik-baik cermin di hadapanku, kemudian tersenyum puas, inilah diriku versi make over dadakan, lumayan cantik koq.

Keluar dari kamar mandi, aku sudah melihat ko Dio sedang duduk di kursi di samping tangga, agak terantuk-antuk, sepertinya berusaha mengistirahatkan badannya yang lelah. Kubuka lagi tas kecilku, kukeluarkan sebungkus plastik basah, kulebarkan, kemudian pelan-pelan kudekati ko Dio dari samping dan kutempelkan tissue basah itu ke wajahnya.
Capek ya kooo...
Kutepuk-tepuk kepala ko Dio perlahan, seperti yang biasa dilakukan mama saat aku manja. Ko Dio hanya tersenyum lembut padaku, kemudian mengelap wajahnya dengan tissue basah.

Naik yuk, sudah ada yang menunggu kita di atas, dia pasti sudah tak sabar ingin bertemu denganmu.
Ko Dio menarik tanganku lagi dengan lembut, telapak tangannya yang besar seolah menelan tanganku yang kecil dengan hangat. Kami menaiki tangga menuju ke lantai tiga, di ujung tangga itu ada sebuah pintu berwarna putih kemerahan, kami membuka pintu itu dan menuju ke luar.

Waw... atap gedung tua yang cukup luas itu seolah disulap menjadi cafe bernuansa taman yang indah. Dedaunan hijau menjalar pada pagar besi putih berornamen,  bunga-bunga dengan harum yang lembut tengah bermekaran, simfoni dari kepingan hitam di atas gramophone klasik di meja counter, dan langit yang merah merekah semakin menyempurnakan suasana sore itu.

Jadi inikah Ryska yang sering kamu ceritakan itu? Memang secantik kisah yang kudengar dari Dio.
Terdengar suara yang dalam, tenang, dan berwibawa, tapi penuh dengan kelembutan di setiap intonasinya. Kupalingkan wajahku ke arah sumber suara itu, dan di sana berdiri seorang pria paruh baya mengenakan kemeja kuning santai dan celana panjang kain berwarna putih. Wajah pria itu dipenuhi garis-garis usia yang membuatnya penuh wibawa, tapi juga garis-garis wajah yang menunjukkan betapa ramahnya dia. Rambut, janggut, dan kumis tipis yang memutih seolah menunjukkan berapa banyak asam garam yang telah ditelannya.

Sore paman, terima kasih sudah mengundang kami, ya ini Ryska, bukankah aku sudah bilang kalau aku ngga pernah bohong hehehe... Ryska, ini paman keduaku, paman Bill. Paman yang akan menjamu kita di eiffel kecil miliknya.
Kata ko Dio sambil memeluk punggung paman Bill.

Ngg... perkenalkan, aku Ryska, terima kasih undangannya, tempat ini indah sekali, aku menyukainya.
Aduh aku bingung harus ngomong apa, sangat terasa sekali kecanggunganku, lidahku sangat kelu, ingin rasanya kupijat lidah ini agar bergerak lincah seperti biasanya.

Hahaha... perkenalkan juga manis, aku Bill, sayang sekali aku sudah tua, jika tidak pasti aku akan bersaing dngan Dio untuk mengejarmu.
Canda paman Bill sambil memukul-mukul ringan lengan ko Dio. Mereka bercanda ringan dengan akrabnya. Baru kali ini kulihat ko Dio berbincang dengan orang yang lebih senior dengan begitu santai, mereka pasti sangatlah dekat. Aku ingin lebih sok kenal dengan si paman, tapi aku takut jika salah merespon, jadi lebih baik pasang senyum manis dan jadi anak baik sementara waktu.

Silahkan duduk dulu dan nikmati malam kalian, paman akan menyiapkan semuanya, dan ingat Dio, kamu berhutang menemani paman dua kali paket vip karaoke happy puppy, kamu boleh ajak Ryska, dan tetap kamu yang bayar.
Kata paman sembari tertawa dan membalikkan punggung menuju ke balik meja corner.

Ko Dio tiba-tiba menjulurkan tangannya ke hadapanku, layaknya para gentlemen yang mengajak pasangan mereka ke lantai dansa, hanya bedanya kami menuju ke sebuah meja di tengah taman yang indah, selapis taplak putih berenda, peralatan makan yang tertata rapi, lilin merah yang menyala terang dan sekuntum mawar  di tengah meja, dan dengan latar matahari terbenam di ujung barat, so sweettt...

Tapi kenapa disebut eiffel? Eiffel favoritku kan menara megah artistik di Perancis.
Ko, knapa paman Bill memberi nama eiffel untuk tempat ini?
Tanyaku sambil melihat sekitar, siapa tahu ada petunjuk kenapa namanya eiffel, pikirku.

Ituuu... biar paman Bill yang bercerita nanti, tapi itupun jika nonik ngga keberatan kencan bertiga bersama paman haha...
Canda ko Dio dengan volume suara yang sengaja dikeraskan, seperti ingin menggoda paman Bill

Hahaha... nikmatilah dulu makan malam kalian, nanti paman akan bercerita sedikit tentang eiffel.
Aku setengah terkejut karena paman Bill tiba-tiba menjawab dari belakangku sambil membawa sebuah nampan dengan sepasang hidangan yang tersaji cantik.

Satu demi satu hidangan disiapkan sendiri oleh tangan ahli paman Bill, appetizer, main course, dessert, lengkap dengan sajian dan hiasan yang indah. Rasa-rasa yang unik, seunik namanya, aku tak begitu paham dengan cita rasa Perancis, tapi lidah memang selalu jujur, setiap potong makanan yang tersaji hingga minuman penutupnya yang hangat menyegarkan kini menghuni perutku yang gembira.

Saat ko Dio mengalihkan matanya ke arah meja counter akupun ikut berpaling, ah paman Bill sedang menuju kemari, dia terlihat sedang mengelap tangannya sambil tersenyum puas, sepertinya paman senang karena setiap hidangannya kembali tanpa sisa. Ko Dio berdiri mengambil satu kursi yang ada di pinggiran dan menaruhnya di samping kursinya, akupun segera berdiri dan pindah, aku ingin di sebelahnya ko Dio aja hehehe...

Paman duduk dan menyandarkan punggungnya, kemudian menghela nafas sambil tersenyum melihat kami.
Ahh... beginilah kalau sudah berumur, sedikit aktivitas berat maka otot dan sendi akan memberontak. Ryska masih mau mendengar cerita paman tentang eiffel?
Iya paman iyaa... begitu pikirku, tapi hanya anggukan kecil yang terekspresikan, aduh payah.

Paman Bill mengeluarkan selembar kertas, seperti foto yang agak kuno, beliau memandanginya sejenak, senyum di wajahnya begitu sendu, kemudian paman Bill menyodorkan foto itu kepadaku. Eiffel!! Background tempat foto ini diambil adalah eiffel, ada pasangan muda di foto ini, seorang laki-laki gagah dan tampan, walaupun ko Dio ku sedikit lebih menarik sih, ini pasti paman Bill, dan d sebelahnya seorang perempuan berambut panjang yang sangat sangat cantik, wajahnya mirip artis Maudy Koesnady tapi sedikit lebih cempluk dan bulat.

Itu Sari, kekasih paman dulu sekaligus calon istri paman. Cukup cantik bukan?
Aku hanya bisa mengangguk, karena hatiku mengakui bahwa aku kalah cantik dibandingkan perempuan bernama Sari ini.
Tapi kenapa masih calon paman? Apakah paman belum menikah?
Tanyaku penasaran dengan nasib hubungan mereka.

Sari adalah satu-satunya perempuan yang pernah singgah dan menetap di hatiku. Dia sama sepertimu, mengagumi eiffel dan kisah-kisah romantis d baliknya. Suatu hari aku mendapatkan bonus dari tempat kerjaku yang dulu, cukup besar, cukup untuk membawa kami ke Perancis 3 hari 2 malam saat itu. Aku membawa Sari berjalan-jalan mengelilingi kota Perancis, terutama di sekitar eiffel, menikmati pemandangan yang indah, melihat pasangan-pasangan bermesraan, suasana jalanan yang romantis di sore hari, bahkan keajaiban kota cahaya di malamnya, indah, sangat indah, sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Paman Bill bercerita dengan antusias, sesekali menutup mata dan terdiam, seperti mengenang masa lalu dalam ingatannya.

Satu helaan nafas panjang, seteguk air putih di gelas yang dibawa paman, kemudian cerita paman pun berlanjut.
Malam terakhir kami di sana, Sari percaya bahwa dewa cinta memberikan tanda bahwa kami memang pasangan yang ditakdirkan, karena saat itu perut kami berbunyi bersamaan karena lapar, tepat di depan sebuah cafe outdoor,  cafe yang menjadi background foto itu. Pertanda yang aneh memang, tapi akupun sudah yakin pada Sari meski tanpa pertanda itu, jadi terserahlah. Kamipun akhirnya makan di sana, saat itu aku tak paham apa yang kupesan, aku tak terlalu paham bahasa barat, tapi secara keseluruhan malam itu tak terlupakan. Wajah Sari begitu cantik di bawah siraman cahaya lampu malam, aku bahkan tak sempat memperhatikan indahnya eiffel, cepat-cepat kukeluarkan sebuah kotak dari saku celanaku, kusodorkan di hadapan Sari, kubuka, dan kukatakan...

Would you marry me?
Sahut ko Dio menimpali cerita paman sambil cengir-cengir, aku mencubit perutnya keras-keras sampai ko Dio berteriak minta ampun, aku jengkel karena ko Dio merusak momen paling menegangkan dari cerita paman. Tidak biasanya ko Dio begini usil, sedangkan paman Bill malah tertawa saja melihat kami seperti ini, aku malah malu karena sadar sikapku berubah dari saat pertama aku datang ke sini, ehem, sedikit lebih brutal.

Paman pun menghela nafasnya sekali lagi, terlihat kebahagiaan di wajahnya, pasti ini adalah kenangan yang berharga bagi paman, tak lama paman Bill pun kembali bercerita.
Malam itu Sari tidak menjawabku, dia hanya tersenyum, sesekali memandangi cincin itu dengan mata berbinar, kemudian kembali tersenyum melihatku, dia mengambil kotak itu dari tanganku, menutupnya, kemudian memasukkannya ke dalam saku bajuku. Aku bingung, apakah dia menolakku? Yah sudahlah, pikirku, mungkin saatnya belum tepat. Kami mengakhiri malam itu dengan berfoto setelah makan, tepat d depan cafe itu, berjalan pulang dan satu kecupan manis di pipiku sebelum kami berpisah di lobi hotel.

Trus bagaimana paman? Apa yang terjadi selanjutnya?
Sepertinya kecupan Sari malam itu tidak hanya meninggalkan penasaran bagi paman, aku juga nih. Jantungku berdebar sedikit lebih kencang seperti sedang menyaksikan drama box office secara live, aku seperti ikut merasakan apa yang dialami paman Bill.

Keesokan paginya kami bertemu kembali di lobi hotel. Setelah check out, Sari menarik tanganku, mengajakku mencari cemilan untuk sarapan, pagi itu kami berjalan menyusuri jalanan dekat hotel sambil menarik travelling bag yang penuh sesak. Pagi yang sangat dingin dan berembun, Sari tiba-tiba mengatakan sesuatu padaku.
Suatu hari kita buka sebuah cafe seperti cafe tadi malam ya ko, aku akan belajar membuat masakan Perancis, nanti koko yang jadi pramusajinya, ngg... atau sebaliknya aja deh, masakan koko lebih enak sih hehehe...
Aku hanya bengong memandangi wajahnya saat Sari mengatakan hal itu padaku, sampai akhirnya dia mengangkat tangan kanannya, menunjukkan jarinya padaku sambil tertawa penuh kemenangan.

Hah? Kenapa paman? Ada apa dengan jarinya?
Tanyaku dengan sangat penasaran, aku jadi seperti anak kecil yang dapat mainan baru, ko Dio menepuk-nepuk kepalaku sambil tertawa ringan, begitu juga paman Bill, paman tertawa terbahak-bahak saat itu.

Ternyata malam ketika aku melamar Sari, dia mengembalikan kotak itu padaku, tanpa cincinnya, dan dia sangat puas melihat wajah bingungku malam itu. Cincin itulah yang ditunjukkannya padaku pagi itu, tersemat di jari manisnya yang mungil, sangat cantik. Aku memeluknya langsung saat itu juga, tak peduli berapa banyak orang yang melihat.
Paman tiba-tiba terdiam sambil memandangi fotonya bersama Sari.

Lalu kenapa paman belum menikah dengan Sari, bukankah Sari sudah menerima lamaran paman?
Paman Bill tetap terdiam, entah tidak mendengar pertanyaanku atau...
Kecelakaan.
Satu kata yang terlontar dari mulut ko Dio cukup menjelaskan semuanya, dan akupun terdiam, sesekali aku melihat ke arah paman Bill yang sedang diam tertunduk. Aku bingung dengan situasi ini.

Lima menit kami berdiam, hanya angin yang masih ceria berdansa dengan sang lidah api di tengah meja kami, kemudian paman Bill mengangkat wajahnya, mengelap wajahnya dengan punggung lengan bajunya kemudian melanjutkan bercerita.

Pernah satu kali aku mencoba, kembali ke Perancis setelah kepergian Sari, mencoba mengenang kembali perjalanan terakhirku bersamanya, aku kembali ke cafe malam itu, memandangi eiffel dari kejauhan.

Menara cinta yang melegenda yang dipuja banyak pasangan di dunia, inspirasi berbagai kisah cinta terkenal, keajaiban yang tercipta oleh sang jenius di antara jenius, simbol cinta abadi. Sayangnya... bagiku saat itu, eiffel tak lebih dari sekedar monas di Perancis, tidak tanpa Sari. Lima belas hari sejak kepulanganku dari perjalanan itu, aku resign dari pekerjaanku, kugunakan hampir semua tabunganku untuk membeli gedung ini dan mendesign ulang tempat ini, mewujudkan harapan Sari untuk kami. Butuh dua tahun untuk aku dapat menyandarkan hidupku pada cafe ini. Itulah kenapa aku menamakan cafe ini eiffel meski papan namanya masih dalam perbaikan.

Bagiku Sari adalah masterpiece itu, jauh lebih indah daripada eiffel, dan tak tergantikan.
Paman Bill menutup ceritanya, menarik seutas kalung keluar dari balik bajunya, di ujung kalung itu terdapat sebuah cincin dengan mata berlian yang indah, dan paman tak berhenti memandangi cincin itu. Aku merasa aku dapat melihat jejak perjuangan paman Bill saat itu jika aku menyaksikan sekelilingku, betapa tempat ini dibuat dengan penuh kesungguhan, menyerupai seperti cafe kenangan dalam foto tua itu. Sekejap aku merasa eiffel yang satu ini memiliki nilai kenangan yang lebih berharga dari yang aku idam-idamkan.

Tiba-tiba aku merasakan genggaman yang lembut dan sangat hangat di tanganku, ko Dio, aku beru menyadari udara di luar sini cukup dingin, cerita paman Bill mengalihkan perhatianku, membuatku hanyut dalam aliran perasaan yang dikenangnya.

Karena inilah aku membawamu ke sini, kurasa ini momen yang paling tepat bagiku...
Kata-kata ko Dio terhenti, kulihat ekspresi wajahnya sangat serius, dia meraih sesuatu dari saku celananya dan menyodorkannya padaku, sebuah KOTAK kecil hitam! Arrgghh... aku ingin berteriak, tapi aku meyakinkan diriku untuk tetap tenang, jaga image, aduh jantungku berdetak keras dan semakin keras, ingin rasanya aku melompat dan mengatakan ya!! Ko Dio mau melamarku seperti yang dilakukan paman Bill, aku bahagia, aku terharu, aku bingung.

Kuyakinkan diriku bahwa aku harus tenang, aku mengambil kotak hitam itu dari ko Dio, menunggu ko Dio melanjutkan kalimatnya yang belum selesai, dan tak kunjung diselesaikan, aarghh ko Diooo... Kubuka sajalah kotak hitam itu, setiap mili kotak itu terbuka jantungku serasa berdetak semakin keras, sampai akhirnya aku dapat melihat isi kotak itu... KOSONG?! Spontan ko Dio dan paman Bill tertawa sangat keras, mukaku terasa panas, aku malu, bingung, aku salah tingkah, kuambil gelas minumanku yang hampir kosong dan meneguknya lagi.

Tak lama kemudian ko Dio memelukku, mengecup keningku, meraih tanganku, kemudian...
I love you, Ryska
Dan dalam seucap kalimat, sebuah cincin sudah terpasang di jari manisku, aku terdiam, perasaanku kacau oleh semua hal yang tidak masuk akal ini. Air mataku mulai menetes, aku senang, sangat sangat senang, kupeluk ko Dio.
Aku mauuuu... ya aku mau.
Kusadari eiffel tak lebih berarti dibandingkan kisah cinta yang telah kita temukan, yang mungkin telah kita miliki, jika kita menghargainya.

This is my story, how about you?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar