Kamis, 09 Agustus 2012

Menapak Dalam Kenangan

         Kujejakkan kakiku pada starter sepeda motor bebek biru kesayanganku, satu kali, dua kali, dan tig..gaa... sampai akhirnya terdengar suara mesin tua meraung lembut, deruman yang sama yang kunikmati setiap hari saat berada di jalanan. Kulayangkan pandanganku pada fuel meter di balik kaca pelindung yang retak, retak oleh hantaman kemarahan dan kekecewaan dalam kepalan tanganku, retak seperti hatiku malam itu, kecewa, kehilangan dalam penantian. Entah berapa lama pikirku melayang, tenggelam jauh ke dalam perasaan yang tak menentu, untuk apa aku kembali ke kota itu? Momen-momen paling menyakitkan dalam hidup adalah momen-momen terindah yang berakhir dan tak dapat diulang, dan aku sadar itu.

         DIIINNNnnn..!! Perhatianku mendadak terenggut paksa oleh truk yang melintas di hadapanku, "Supir jablai kangen rumah", itulah sepintas tulisan yang sempat kubaca di belakang truk merah itu, dan tentu saja disertai gambar cew berpakaian seksi dengan pose yang menggoda ala truk pengangkut pasir. Ah ya, rumah... di kota itulah aku menikmati 6 tahun masa kuliahku, momen dimana jomblo-jomblo perantauan kompak menghabiskan weekend bersama ditemani kotak berlabel pentium, wisata kuliner 2 kali sehari di warung-warung makan dengan harga terjangkau, kehadiran cinta yang pernah kuharap menjadi yang terakhir bukan berakhir, rumah... karena itulah aku ingin kembali. Kuremas dan kuputar setang gas dalam genggamanku, memulai perjalanan penuh kenangan menuju kota kecil dimana rumah keduaku berada.

         Kulecutkan bebek biruku di atas lautan aspal yang legam karena aku ingin segera sampai ke tujuan, angin begitu keras mencegah lajuku tapi aku tak peduli, aku terus menatap ke depan, pandangan di sekitar mulai terlihat kabur oleh kecepatan, cepat... cepat... semakin cepat aku sampai ke rumahku, semakin cepat aku bertemu kawanku. Sampai di satu titik aku memperlambat lajuku, bukan karena lelah, bukan karena terhalang, tapi karena aroma rumput, dedaunan, dan bunga liar menyusup ke hidungku, aroma yang menenangkan. Rasa penasaran membuatku menengok ke pinggiran jalan, yang semula terlihat kabur ternyata begitu indah, hamparan sawah hijau di kiri dan permadani rumput dihiasi bunga-bunga liar beragam warna di sisi kananku, oh God!! Simple but beautiful, sejenak aku berhenti di tepian jalan, aku turun dan membiarkan si bebek biru istirahat sejenak, aku merebahkan tubuhku di sisi kanan, memandang langit yang saat itu terlihat begitu enggan berseri. Apakah mereka sedih karena tak diperhatikan? Dan aku nyaris melewatkan momen ini jika aku terus melihat ke depan.

         Entah berapa lama aku berhenti, tapi perjalanan harus tetap dilanjutkan. Baru beberapa belas kilometer aku menyisir kembali halaman jalan raya, tiba-tiba ada sebuah panggilan yang kusadari, hasrat yang tak tertahankan. Berteduhkan langit yang mendung, berselimutkan hawa dingin yang menggelitik, ditambah buaian lembut bebek biru membuatku semakin terpanggil untuk memenuhi hasratku, tapi dimana? Kiri kanan kulihat saja, ada pohon cemara dan rerumputan yang akan menyambutku, tapi ditonton oleh puluhan orang yang berlalu lalang, entahlah. Kemudian aku teringat, sekitar 4 menit perjalanan dari sini akan ada pom bensin, dan pasti di sana ada ruang eksklusif untuk menampung hasratku, maka tanpa ragu-ragu akupun segera menuju ke sana. Bagi para traveller pasti pernah merasakan dan mengerti betapa leganya perasaanku 10 menit kemudian, seperti melewati batas antara surga dan neraka.

         Kurasa... hidup ini juga sama seperti perjalananku, banyak hal yang dirangkum menjadi satu dalam perjalanan jika kita mau merenungkannya. Dalam segala hal, seperti misalnya kota kecilku, rumah keduaku, pasti ada baik dan buruk, kurang dan lebih, ada kenangan bahagia dan sedih, tergantung pilihan kita untuk melihat yang menguatkan... atau melemahkan. Sebagaimana perjalanan menuju ke suatu tempat, hidup kita juga pasti memiliki mimpi, cita-cita, harapan yang membuat kita terus melaju apapun hambatannya, tapi saat kita terlalu fokus pada tujuan, kita tidak mengerti apa yang ada di sekitar kita, tidak menghargai apa yang kita miliki saat ini, seperti rerumputan dan padi yang menari menghantar kepergian kita. Seringkali kita ragu mengenai apa yang terjadi dalam hidup ini, terlebih lagi saat banyak tekanan menghimpit dan menyesakkan, semua itu karena kita tidak tahu apa yang ada di depan, tidak seperti aku yang mengetahui akan ada pom bensin di depan sehingga aku berani memacu bebek biruku dalam keadaan terdesak hasrat.

         Sial MOGOK!!! Terlalu banyak berpikir membuatku lupa untuk mengecek kesehatan si bebek biru, aku lupa kapan terakhir kali aku memeriksakannya di puskesmas motor, atau kapan aku menyuntikkan angin di kaki-kaki bulatnya, atau paling parahnya... aku lupa memberinya makan dengan cairan premium. Aku baru ingat ketika awal perjalanan aku melihat fuel meter, dan itu mendekati huruf E yang artinya empty atau kosong, bodohnya aku. Sebegitu bijaknya aku merenungkan hidup sampai lupa aku mengisi bensin sehingga akhirnya aku diberhentikan paksa d tepi jalanan. Well... and you know, aku kembali belajar dari ini semua, sebagaimana kita berusaha keras dalam hidup ini tapi kita lupa menjaga diri kita, lupa menjaga kondisi tubuh pemberian Tuhan, sehingga kita harus diberhentikan paksa oleh rasa sakit, pilih mana?

Be wise, this is my story, and time to continue my journey.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar