Kujejakkan kakiku pada
starter sepeda motor bebek biru kesayanganku, satu kali, dua kali, dan tig..gaa...
sampai akhirnya terdengar suara mesin tua meraung lembut, deruman yang sama
yang kunikmati setiap hari saat berada di jalanan. Kulayangkan pandanganku pada
fuel meter di balik kaca pelindung yang retak, retak oleh hantaman kemarahan
dan kekecewaan dalam kepalan tanganku, retak seperti hatiku malam itu, kecewa,
kehilangan dalam penantian. Entah berapa lama pikirku melayang, tenggelam jauh
ke dalam perasaan yang tak menentu, untuk apa aku kembali ke kota itu?
Momen-momen paling menyakitkan dalam hidup adalah momen-momen terindah yang
berakhir dan tak dapat diulang, dan aku sadar itu.
DIIINNNnnn..!! Perhatianku
mendadak terenggut paksa oleh truk yang melintas di hadapanku, "Supir jablai
kangen rumah", itulah sepintas tulisan yang sempat kubaca di belakang truk
merah itu, dan tentu saja disertai gambar cew berpakaian seksi dengan pose yang
menggoda ala truk pengangkut pasir. Ah ya, rumah... di kota itulah aku
menikmati 6 tahun masa kuliahku, momen dimana jomblo-jomblo perantauan kompak
menghabiskan weekend bersama ditemani kotak berlabel pentium, wisata kuliner 2
kali sehari di warung-warung makan dengan harga terjangkau, kehadiran cinta
yang pernah kuharap menjadi yang terakhir bukan berakhir, rumah... karena
itulah aku ingin kembali. Kuremas dan kuputar setang gas dalam genggamanku,
memulai perjalanan penuh kenangan menuju kota kecil dimana rumah keduaku
berada.
Kulecutkan bebek biruku di
atas lautan aspal yang legam karena aku ingin segera sampai ke tujuan, angin
begitu keras mencegah lajuku tapi aku tak peduli, aku terus menatap ke depan,
pandangan di sekitar mulai terlihat kabur oleh kecepatan, cepat... cepat...
semakin cepat aku sampai ke rumahku, semakin cepat aku bertemu kawanku. Sampai
di satu titik aku memperlambat lajuku, bukan karena lelah, bukan karena
terhalang, tapi karena aroma rumput, dedaunan, dan bunga liar menyusup ke
hidungku, aroma yang menenangkan. Rasa penasaran membuatku menengok ke
pinggiran jalan, yang semula terlihat kabur ternyata begitu indah, hamparan
sawah hijau di kiri dan permadani rumput dihiasi bunga-bunga liar beragam warna
di sisi kananku, oh God!! Simple but beautiful, sejenak aku berhenti di tepian
jalan, aku turun dan membiarkan si bebek biru istirahat sejenak, aku merebahkan
tubuhku di sisi kanan, memandang langit yang saat itu terlihat begitu enggan
berseri. Apakah mereka sedih karena tak diperhatikan? Dan aku nyaris melewatkan
momen ini jika aku terus melihat ke depan.
Entah berapa lama aku
berhenti, tapi perjalanan harus tetap dilanjutkan. Baru beberapa belas kilometer
aku menyisir kembali halaman jalan raya, tiba-tiba ada sebuah panggilan yang
kusadari, hasrat yang tak tertahankan. Berteduhkan langit yang mendung,
berselimutkan hawa dingin yang menggelitik, ditambah buaian lembut bebek biru
membuatku semakin terpanggil untuk memenuhi hasratku, tapi dimana? Kiri kanan
kulihat saja, ada pohon cemara dan rerumputan yang akan menyambutku, tapi
ditonton oleh puluhan orang yang berlalu lalang, entahlah. Kemudian aku
teringat, sekitar 4 menit perjalanan dari sini akan ada pom bensin, dan pasti
di sana ada ruang eksklusif untuk menampung hasratku, maka tanpa ragu-ragu
akupun segera menuju ke sana. Bagi para traveller pasti pernah merasakan dan
mengerti betapa leganya perasaanku 10 menit kemudian, seperti melewati batas
antara surga dan neraka.
Kurasa... hidup ini juga sama
seperti perjalananku, banyak hal yang dirangkum menjadi satu dalam perjalanan
jika kita mau merenungkannya. Dalam segala hal, seperti misalnya kota kecilku,
rumah keduaku, pasti ada baik dan buruk, kurang dan lebih, ada kenangan bahagia
dan sedih, tergantung pilihan kita untuk melihat yang menguatkan... atau
melemahkan. Sebagaimana perjalanan menuju ke suatu tempat, hidup kita juga
pasti memiliki mimpi, cita-cita, harapan yang membuat kita terus melaju apapun
hambatannya, tapi saat kita terlalu fokus pada tujuan, kita tidak mengerti apa
yang ada di sekitar kita, tidak menghargai apa yang kita miliki saat ini, seperti
rerumputan dan padi yang menari menghantar kepergian kita. Seringkali kita ragu
mengenai apa yang terjadi dalam hidup ini, terlebih lagi saat banyak tekanan menghimpit
dan menyesakkan, semua itu karena kita tidak tahu apa yang ada di depan, tidak
seperti aku yang mengetahui akan ada pom bensin di depan sehingga aku berani
memacu bebek biruku dalam keadaan terdesak hasrat.
Sial MOGOK!!! Terlalu banyak
berpikir membuatku lupa untuk mengecek kesehatan si bebek biru, aku lupa kapan
terakhir kali aku memeriksakannya di puskesmas motor, atau kapan aku
menyuntikkan angin di kaki-kaki bulatnya, atau paling parahnya... aku lupa
memberinya makan dengan cairan premium. Aku baru ingat ketika awal perjalanan aku
melihat fuel meter, dan itu mendekati huruf E yang artinya empty atau kosong,
bodohnya aku. Sebegitu bijaknya aku merenungkan hidup sampai lupa aku mengisi
bensin sehingga akhirnya aku diberhentikan paksa d tepi jalanan. Well... and
you know, aku kembali belajar dari ini semua, sebagaimana kita berusaha keras
dalam hidup ini tapi kita lupa menjaga diri kita, lupa menjaga kondisi tubuh
pemberian Tuhan, sehingga kita harus diberhentikan paksa oleh rasa sakit, pilih
mana?
Be wise, this is my story, and time to continue my journey.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar