Jumat, 01 Juni 2012

Filosofi dalam secangkir kopi hangat?


         Sore ini aku menyeduh secangkir kopi instant seperti biasanya, aku suka aroma kopi yang harum dan bervariasi, aku menikmati sensasi pahit manis yang hangat melewati tenggorokanku, mengalir seteguk demi seteguk mengisi perutku, itulah yang kurasakan tiap hari, hanya saja tadi mendadak terpikirkan olehku sesuatu yang berbeda dari biasanya, sesuatu yang mungkin bisa aku bagikan kepada kalian yang membacanya, tolong garis bawahi kata "mungkin".
         Pernahkah kalian menyentuh sesuatu yang panas kemudian secara reflek melepas atau melemparkannya? Bagaimana jika kalian dengan sadar memegang sebuah cangkir berisi bubuk kopi dan menuangkan air panas ke dalamnya? Tangan kalian pastinya akan merasakan panas bukan? Tapi apakah kalian akan melepaskan pegangan kalian dari cangkir itu? Seharusnya tidak, karena kita tahu bahwa cangkir itu akan jatuh dan pecah dan kopi itu akan tumpah jika kita melepaskannya.
         Pernahkah terpikir kenapa Tuhan tidak meninggalkan kita saat kita melenceng dalam dosa, saat kita jatuh dalam kesalahan kita? Dalam artian, Bapa masih memberkati kita, melindungi kita, bahkan sama seperti di saat kita mengikuti Nya, saat kita menyenangkan hati Nya. Pernahkah kalian berpikir bahwa kita adalah cangkir-cangkir kesayangan Tuhan? Sebagaimana kita menjaga cangkir kesayangan kita, Dia akan tetap memegang erat kita walaupun cangkir kita panas dan melukai tangan Nya, karena Dia tahu bahwa kita akan hancur berkeping-keping jika Dia melepaskan kita? Begitu besar kasih Nya pada kita bukan?
         Kalau Bapa sayang pada kita lantas kenapa Tuhan izinkan pencobaan selalu datang di hidup kita? Kenapa juga pencobaan yang kita hadapi seringkali terkesan lebih berat daripada yang lain? Tahukan untuk apa kita menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi bubuk kopi? Agar kopi itu terseduh matang dan menghasilkan aroma yang harum dengan rasa pahit yang unik yang disukai banyak orang yang menikmatinya. Tahukah kalian bahwa bubuk kopi yang berbeda membutuhkan derajat panas air dan waktu penyeduhan yang berbeda untuk menarik aroma dan rasa terbaiknya? Begitu pula kita manusia, membutuhkan asahan yang berbeda untuk menjadikan yang terbaik dari diri kita.
         Tuhan mengerti masing-masing pribadi kita, Dia mengenal baik cangkir-cangkir kesayangannya, Dia memahami bubuk kopi apa yang ada di dalam kita, Dia mengerti kapasitas kita, dan Dia mengerti bagaimana untuk menjadikan yang terbaik dari diri kita, karena itulah Bapa mengizinkan pencobaan yang berbeda-beda (yang tak pernah lebih besar dari kemampuan kita) hadir dalam hidup kita, untuk menyeduh kita sehingga kita matang dan berkenan di hadapannya juga bagi orang-orang di sekitar kita. Berhubung secangkir kopiku sudah habis hingga tetes terakhir, maka sampai disini juga tulisanku, suwuunn...

This is my story, how about you?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar