Sore ini aku menyeduh
secangkir kopi instant seperti biasanya, aku suka aroma kopi yang harum dan
bervariasi, aku menikmati sensasi pahit manis yang hangat melewati
tenggorokanku, mengalir seteguk demi seteguk mengisi perutku, itulah yang
kurasakan tiap hari, hanya saja tadi mendadak terpikirkan olehku sesuatu yang
berbeda dari biasanya, sesuatu yang mungkin bisa aku bagikan kepada kalian yang
membacanya, tolong garis bawahi kata "mungkin".
Pernahkah kalian menyentuh sesuatu
yang panas kemudian secara reflek melepas atau melemparkannya? Bagaimana jika kalian
dengan sadar memegang sebuah cangkir berisi bubuk kopi dan menuangkan air panas
ke dalamnya? Tangan kalian pastinya akan merasakan panas bukan? Tapi apakah
kalian akan melepaskan pegangan kalian dari cangkir itu? Seharusnya tidak,
karena kita tahu bahwa cangkir itu akan jatuh dan pecah dan kopi itu akan
tumpah jika kita melepaskannya.
Pernahkah terpikir kenapa Tuhan tidak
meninggalkan kita saat kita melenceng dalam dosa, saat kita jatuh dalam
kesalahan kita? Dalam artian, Bapa masih memberkati kita, melindungi kita,
bahkan sama seperti di saat kita mengikuti Nya, saat kita menyenangkan hati Nya.
Pernahkah kalian berpikir bahwa kita adalah cangkir-cangkir kesayangan Tuhan? Sebagaimana
kita menjaga cangkir kesayangan kita, Dia akan tetap memegang erat kita
walaupun cangkir kita panas dan melukai tangan Nya, karena Dia tahu bahwa kita
akan hancur berkeping-keping jika Dia melepaskan kita? Begitu besar kasih Nya
pada kita bukan?
Kalau Bapa sayang pada kita lantas kenapa
Tuhan izinkan pencobaan selalu datang di hidup kita? Kenapa juga pencobaan yang
kita hadapi seringkali terkesan lebih berat daripada yang lain? Tahukan untuk
apa kita menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi bubuk kopi? Agar kopi itu
terseduh matang dan menghasilkan aroma yang harum dengan rasa pahit yang unik
yang disukai banyak orang yang menikmatinya. Tahukah kalian bahwa bubuk kopi
yang berbeda membutuhkan derajat panas air dan waktu penyeduhan yang berbeda
untuk menarik aroma dan rasa terbaiknya? Begitu pula kita manusia, membutuhkan
asahan yang berbeda untuk menjadikan yang terbaik dari diri kita.
Tuhan mengerti masing-masing pribadi
kita, Dia mengenal baik cangkir-cangkir kesayangannya, Dia memahami bubuk kopi
apa yang ada di dalam kita, Dia mengerti kapasitas kita, dan Dia mengerti
bagaimana untuk menjadikan yang terbaik dari diri kita, karena itulah Bapa
mengizinkan pencobaan yang berbeda-beda (yang tak pernah lebih besar dari
kemampuan kita) hadir dalam hidup kita, untuk menyeduh kita sehingga kita
matang dan berkenan di hadapannya juga bagi orang-orang di sekitar kita. Berhubung
secangkir kopiku sudah habis hingga tetes terakhir, maka sampai disini juga
tulisanku, suwuunn...
This is my story, how about
you?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar