Inilah salah satu pertanyaan yang paling membuatku berpikir saat interview kerja kemarin. Ada orang yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan ringan, ada juga yang berpikir jauh sebelum menjawabnya. Kenapa? Coba anda bayangkan sebuah lemari, saya pribadi secara sederhana akan membayangkan sebuah benda kotak dari kayu dan tengahnya bolong, tapi tahukah bahwa lemari bagi seseorang mungkin adalah sebuah "ruang" untuk menyimpan berbagai perhiasan, sepatu, baju, boneka, dan lain-lain. Yep, lagi-lagi perbedaan sudut pandang dan cara berpikir, HUMAN IS UNIQUE, kita ngga bisa nge-judge seseorang itu salah hanya karena dia berpikir beda dari kita.
Kembali lagi ke topik, setelah pertanyaan itu kujawab, aku menyadari betapa lemahnya posisiku saat itu, kalian pasti tahulah nasib para figuran dalam film laga, yang sudah tahu akan kalah dari si tokoh utama tapi tetep aja berusaha melawan karena tuntutan skenario, yaa... bonyok deh. Sesaat kemudian aku seperti melihat tulisan berjalan pada etalase toko, "seandainya", yak ini dia kelemahan manusia, selalu menyesali masa lalu, kegagalan, kesalahan, kekurangan, kepahitan, dan masih banyak lagi sejenisnya yang akan membuat kita mabuk, nge-fly, kemudian ketagihan untuk terpuruk dan menyalahkan keadaan. Apakah itu yang terbaik? (ngutip dari tulisan seseorang)
Pernah ngliat tree of decision? Itu adalah gambar pohon yang bercabang-cabang sejak keputusan pertama yang kita ambil, di tiap akhir dari cabang itu menanti sebuah konsekuensi yang akan dilanjutkan dengan cabang-cabang lainnya, begitu terus sampai pada garis yang disebut END (itulah akhir hidup kita). Saat kita berkata seandainya aku dulu begini begitu, coba pikirkan konsekuensi yang menunggu kita di akhir keputusan kita, dan itu masih akan terus bercabang dan berlanjut. Apakah kamu yakin kalau kata "seandainya" itu terjadi, hidupmu akan lebih baik dari sekarang? Atau kamu akan semakin mabuk dan ketagihan dengan keterpurukan yang lebih maknyus?
Well, that is life, and life must go on, he won't waiting for you to raise when you're down. Aku hanya percaya bahwa apapun yang telah aku putuskan, itulah yang terbaik untukku dan apapun konsekuensinya mau tidak mau itulah skenarioku, aku hanya perlu terus bangkit dan maju apapun masa laluku, bersyukur untuk setiap apa yang kumiliki dan setiap keadaan yang ada di sekelilingku. HE is the one who will help me to face every consequence of my decision as long as I rely my life to HIM. So... masih pengen mikir-mikir lagi?
This is my story, how about you?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar