Ini adalah salah satu cerita pendek yang pernah aku buat dan aku post di sebuah situs jejaring sosial :p Sembari menunggui seseorang yang sedang mengerjakan tugas dengan wajah yang serius maka aku merepost nih cerita, Gbu.
"Pokoknya aku akan pergi ke kota, titik!!" Teriak sang pemuda dengan semangat menggebu-gebu.Dua buah koper usang berlabel "Presiden" pun segera diisinya dengan pakaian-pakaian kesayangannya, 4 buah ayam tanah liat pun dipecahkannya untuk biaya perjalanan dan hidupnya selama di kota. 1 jam 17 menit dan 36 detik, itulah waktu yang dibutuhkan untuk sang pemuda memutuskan mengejar mimpi dan masa depannya di kota. Berdasarkan khayalan yang didapat dari cerita teman-temannya di kota, maka sang pemuda ingin memulai hidup barunya di tempat yang baru dengan orang-orang yang baru.Ayok, begitu para warga desa memanggil sang pemuda. Setiap pagi selama 17 tahun, dia selalu dibangunkan bisikan mesra para ayam jago, disambut udara pagi dengan aroma rerumputan dan kotoran ternak yang masih basah, dan cahaya mentari yang selalu menyusup di sela-sela anyaman bambu dinding rumahnya."Aku sudah bosan dengan semua ini, hanya sebatas inikah berkat Tuhan? 17 tahun dan tidak ada yang berubah, tidak ada yang bisa dilakukan di kampung seperti ini. Aku harus ke kota untuk memperoleh perubahan!" Itulah yang berkelebat di pikiran Ayok saat mendengar cerita dari temannya.Duduk berdampingan dengan pak kusir mengarungi beberapa jalan setapak yang becek, melintasi puluhan kilometer rel kereta di atas kelas ekonomi yang berdesak-desakan, dan numpang ojek motor kagak jelas di pangkalan resmi buatan pemerintah setempat, sampailah ayok di tempat temannya bekerja.Memang hanya sebuah toko kelontong kecil di pinggiran jalan raya, tapi merupakan usaha yang menjanjikan karena jalan raya itu merupakan salah satu jalur penting yang sering dilalui kendaraan bermotor.Satu bulan ayok mengecap rasanya bekerja di kota besar, satu bulan juga dia merasakan sedikit perbedaan dengan kehidupan lamanya. Tak ada lagi yang setia membangunkan tidurnya kecuali jam weker seharga 10000 rupiah, pergantian bau rumput dan kotoran dengan asap yang kental, mentari yang terasa semakin akrab dan terlalu hangat, tak ada orang-orang yang saling bersilaturahmi, semuanya hanya saling numpang lewat saja, "membosankan."Pada akhirnya Ayok kembali berpikir, bukankah selama ini pun apa yang didapatnya di kampung kecil sudah merupakan berkat yang tidak didapat oleh orang kota? Bukankah Tuhan menyuruh kita untuk tinggal dan mensejahterakan tempat dimana kita diutus? Apa salahnya dengan kampung? Apa salahnya dengan desa? Tuhan dapat bekerja di manapun dan kapanpun, karena Dia punya rancangan yang dahsyat untuk anak-Nya. ^^
This is my story, what about you?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar