Sabtu, 03 Maret 2012

Sekilas perspektifku mengenai "JODOH"


         Sebuah cerita singkat untuk ilustrasi apa yang ingin aku ceritakan.

         Sebutlah namanya Airi (bukan nama sebenarnya, but I love this name), seorang gadis berdarah jepang dengan rambut hitam panjang dan halus, iris mata coklat karamel yang manis, hidung mancung, bibir kemerahan bak bunga sakura, dan kulit putih cerah. Hemm... you can say that she is one of the brightest star in your dream. Gadis ini memiliki kelebihan yang unik yaitu matanya yang buta dan kakinya yang lumpuh (believe me, it's not her weakness). Bagi laki-laki pada umumnya, gadis seperti ini jelas bukan type calon istri ideal (apalagi kalau tuh laki punya ortu cerewet n tukang nuntut), jadi Yamada is her first guy.

         Who is that guy? Yamada adalah seorang karyawan kantoran biasa, badannya gemuk, dan mukanya... ngg... standar figuran di film-film drama gitulah. Dia bertemu Airi saat melewati taman dekat rumah Airi, tanpa mengetahui "kelebihan Airi" dia berkenalan dengannya. Reaksi Yamada hanya SEDIKIT berbeda dengan laki-laki lain saat mengetahui Airi buta dan lumpuh, saat yang lain berkata "tidak", dia berkata "tidak apa".

         Singkat cerita si Yamada inilah yang menghiasi berlembar-lembar buku kehidupan Airi, make her smile, tease her, support her, lend his shoulder for her, etcetera etcetera... Demikian juga sebaliknya, Airi memang takkan bisa banyak membantu Yamada physically, tapi dengan lembut dan sabar dia menopang hati si gendut Yamada, membuatnya lebih kokoh dalam menghadapi hidup. Happily ever after? Of course not... not yet.

          Every story always have it's own conflict. Kali ini muncullah sang pangeran sempurna dari negeri dongeng yang tertarik pada Airi. Hemm... bayangkan saja si penunggang kuda putih dalam khayalan terindah kalian, itulah dia, Tanaka. Sama seperti Yamada, Tanaka pun tidak keberatan dengan "kelebihan" Airi, tapi dirinya tahu bahwa Airi sudah menyimpan seseorang di hatinya. Singkat cerita lagi, Tanaka mencoba "membuka" mata Airi tentang Yamada.

Tanaka : "Tahukah kamu, bahwa pria yang mendampingimu itu gendut, pendek, sipit, jelek, kumisan pula, matanya cuman segaris, hidungnya pesek, sudah gitu kerjanya cuma karyawan rendahan!" (kurang lengkap apa coba si Yamada?)

Airi : "Mungkin itu semua benar, tapi bukankah kamu dianugrahi sepasang mata untuk mengetahui bahwa aku buta? Lantas apakah semuanya itu bisa kulihat?"

Tanaka : "Karena itu aku memberitahumu sehingga kamu sadar, pergilah bersamaku, kau akan tahu bahwa aku jauh berbeda dibandingkan Yamada, aku ini bla bla bla... (sensor aja, terlalu panjang) dan anak seorang bangsawan dari pantai selatan."

Airi : "Mataku memang buta, tapi tidak hatiku, aku merasakan kehangatan dari Yamada yang tidak kurasakan ada padamu. Aku suka dengan sikapnya yang penuh perhatian, perutnya yang empuk, bahunya yang lebar, aku selalu bisa tertawa bersamanya bahkan di hari terburukku. Jadi pergilah dan temukan orang yang cocok bersamamu."

         Terkadang kita merasa bahwa diri kita begitu payah, kekurangan disana sini, kikuk, wajah pas-pasan, dompet seukuran daun kelor (lebar, tapi tipis), apa lagi? Silahkan sebutkan sesuai kekurangan anda sendiri. So what? Tuhan tidak pernah menciptakan anak-anaknya hanya dibekali dengan kekurangan tanpa kelebihan. Sering kita berkata, aku memang dilahirkan untuk jadi jomblo abadi, ga ada cewe/cowo yang mau bersamaku. Waitt... cerita di atas memang hanya ilustrasi, tapi itulah kenyataan, saat kamu mencari pasangan hidup, yang terpenting bukalah hatimu, bukan matamu.

         Bayangkanlah jika si Yamada di atas hanya berfokus pada kekurangan Airi yang dilihatnya, masih maukah dia bersama dengan calon istri yang mungkin tidak akan bisa menyiapkan kebutuhan sehari-harinya, yang mungkin justru akan menyusahkannya dengan keterbatasan fisik? Belum tentu kan? Bagaimana jika si Airi tetap memilih untuk mencari seseorang yang terbaik yang bisa dia temukan? Belum tentu juga dia akan bahagia dengan si pangeran sempurna seperti saat dia bersama Yamada, karena dia tahu itu maka dia lebih memilih apa yang dirasakan nyaman oleh hatinya.

         Seringkali Tuhan pertemukan kita dengan berbagai orang, tapi mata ajaib kita bisa berubah fungsi menjadi papan score sekaligus filter. Pernahkan kamu mendengar atau malah memikirkan statement semacam ini : "Dalam skala 1-10 aku hanya menerima score 7 ke atas, selain itu sorry ya, kagak level!" Ah si dia jelek pendek item gendut bodoh miskin kampungan, no no no no...! Sekalinya berhubungan dengan seseorang (kadang faktor coba-coba) dan menemukan kekurangannya lantas memutuskan hubungan dan mencari yang lain. Trus... saat kita susah menemukan pasangan pada akhirnya kita berteriak, "Tuhaannn... mana jodohku?!! Sudah tak ada lagikah orang yang pantas jadi pendampingku? Yang benar sayang padaku, perhatian, jujur, nda selingkuh?!" Hahaha... Bukalah hatimu dan kamu akan merasakan, orang yang mengerti dirimu, membuatmu merasa nyaman, menerimamu apa adanya, akan tetapi mungkin orang itu memiliki kekurangan yang tidak dapat diterima matamu, then it's your choice.

"Tuhan memang berkuasa mengatur jodoh, tapi jodoh hanyalah sebatas pertemuan dan kesempatan, pilihan kita yang menentukan hasilnya. Dia tak pernah memaksakan kehendak-Nya pada kita, Tuhan tidak memperlakukan kita layaknya boneka barbie yang bahkan bisa dipasangkan dengan winnie the pooh oleh pemiliknya. Mata memang mengetahui kebenaran yang nampak, tetapi hati menelusur lebih dalam. Choose your mate wisely."

This is my story, how about you?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar