Minggu, 11 Maret 2012

Watch out your mouth!

         Alkisah pada suatu masa di negeri antah berantah, tinggal lah sepasang suami istri di sebuah rumah kecil yang sederhana, dengan atap yang bocor d beberapa titik, dinding yang mulai retak berlumut, dan pintu soak yang berdecit (kondisi ini sedikit didramatisir untuk keperluan penulisan). Keadaan rumah tangga yang kecil itu semakin lama semakin terpuruk dan memburuk, setiap masalah terkecil seringkali menjadi besar dan menimbulkan pertengkaran. Pada akhirnya suatu hari mereka berdua bersepakat (ingat, saat masih ada kata sepakat dalam menyelesaikan masalah, berarti masih ada jalan keluar) untuk menemui seorang hamba Tuhan yang mereka percaya.

         Saat bertemu suami istri tersebut, dengan sabar hamba Tuhan itu berkata, "Coba katakan apa permasalahan kalian secara singkat satu persatu." Menimbang-nimbang istilah "Ladies First", maka sang suami pun segera berkata-kata dalam berbagai bahasa (tapi bukan karena kepenuhan Roh Kudus ya) untuk mendapatkan pembelaan sang hamba Tuhan. Demikianlah jika tuntutan dari sang suami dipersingkat : ISTRIKU ITU... (yaaa... paling ngga masih sadar lah kalau itu istrinya)
- Ngga bisa masak enak, tiap hari lauknya selalu tahu tempe sambel terasi
- Mukanya selalu lusuh, ngga pernah bling-bling seperti saat pertama bertemu
- Tiap hari ngomel-ngomel melulu kayak bebek, ngga pernah bersyukur, banyak tuntutan
- Bla bla bla...

         Mendengar hal itu sang hamba Tuhan hanya tersenyum kemudian berkata, "Silahkan, gantian sang istri yang berbicara." Wah, bagaikan mendengar bunyi letusan pistol tanda dimulainya pertandingan, sang istri pun segera mengucapkan mantra-mantra untuk memenangkan lomba. Singkat cerita, sang istri mengatakan : SUAMIKU... (untung bukan suami orang yang diomongin)
- Ngga becus cari duit, penghasilannya selalu pas-pasan bahkan kurang
- Tiap kali pulang kerja selalu menggerutu, mukanya sepet kayak salak bali
- Punya istri ngga pernah dimanjain, malah disuruh-suruh melulu, emangnya pembantu?!
- Bla bla bla...

         Spontan sang hamba Tuhan tertawa terbahak-bahak, sepasang suami istri itupun kebingungan melihat respon sang hamba Tuhan, kemudian mereka kompak bertanya, "Kenapa pak? Kita lagi ada masalah koq malah ditertawakan? Gimana pak solusinya? Siapa yang salah?" Hamba Tuhan itupun balik bertanya dengan serentetan pertanyaan yang membuat suami istri itu terdiam dan berpikir panjang, "Apakah setiap hari kalian selalu bertengkar seperti ini? Apakah kalian pernah berdoa untuk pasangan kalian? Lebih sering mana kalian bertengkar dan mendoakan? Tahukah kalian bahwa lidah punya kuasa? Tahukah kalian bahwa perkataan kalian adalah sesuatu yang kalian imani?"

         Masing-masing suami istri itupun berpikir mengenai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sang hamba Tuhan. Kenyataannya mereka mengakui dalam hati mereka bahwa tiap hari mereka lebih sering mengutuki pasangan mereka dengan doa-doa (ucapan, perkataan) yang tidak baik dan itulah yang terjadi. Tuhan sudah sering mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menggunakan mulut kita. Berkatilah pasangan kita dengan doa yang baik. Banyak pasangan yang sudah tidak lagi saling memuji saat telah lama bersama, alasannya? "Nggombal hanya diperuntukkan bagi yang PDKT, setelah dapet ngga perlu lagi." Weits... tahukah anda, pujian yang berasal dari hati itu juga adalah doa bagi pasangan kita, dan itu yang memperkuat sebuah hubungan. Akhir kata, jagalah perkataan yang keluar dari mulutmu!

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, dimana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia.” (Efesus 4:29)

"Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21)

This is my story, how about you?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar