Jumat, 02 Maret 2012

Beat the anger to conquer your mouth!!

Siapa menyembunyikan kebencian, dusta bibirnya; siapa mengumpat adalah orang bebal. (Amsal 10:18)
Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin. (Amsal 17:27)
         Well, masih banyak banget ayat dalam alkitab yang menasihati kita supaya menahan diri dan perkataan kita. Ingat! Mulut adalah jendela hati, tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati (Matius 15:18). Jujur pada hati kita memang baik, tapi berhati-hatilah dalam prakteknya, jika diibaratkan mulut kita adalah pintu dapur, jangan sampai yang disajikan dari sana adalah makanan berbau busuk yang tidak enak rasanya, tapi baiklah kita mengolahnya dahulu dengan logika dan hikmat sehingga orang akan menikmati makanan itu dan mencernanya dengan baik.

         Pernah aku mendengar sebuah umpatan yang benar-benar dahsyat, tapi bodoh bukan main, dari skala 1-10, aku bisa bilang kebodohan perkataannya adalah 21 (warning : don't try this at home!!)
"Aku sumpahi keluargamu m*ndul TUJUH turunan!! Anak dari kakek nenekmu akan mati, bapak ibumu m*ndul ga punya keturunan! Kamu dan istrimu ga bisa punya anak! Anak-anakmu, cucu-cucumu, sampai cicitmu aku sumpahi m*ndul semuanya!!"
         Hemm... mari kita kaji sedikit kenapa umpatan di atas berada pada level 21 tingkat kebodohan. Anak dari kakek nenek akan mati? Ya iyalah, semua manusia pasti akan mati koq, ga perlu disumpahilah. Bapak ibumu mandul? Trus yang disumpahi tuh anak siapa?  Kamu dan istrimu ga bisa punya anak? Tapi selanjutnya dia sebutin anak cucu cicit, lah itu anak siapa? Wkwkwkwk... Well inilah contoh orang yang tidak berhikmat, dari mulutnya keluar perkataan-perkataan yang tidak berguna.

         Aku mengaku bahwa akupun "pernah" mengucapkan kata-kata yang pada akhirnya membuat aku menyesal, memang bukan berupa kata-kata kotor atau kasar (sejengkel apapun, aku masih "berusaha" bertahan untuk yang satu ini) tapi karena emosiku aku mempertanyakan perasaan seseorang yang menyayangiku dan aku tahu itu menyakitinya, dan pada akhirnya aku ditinggalkan (don't do the same mistake as I did). Yak, masa lalu tetaplah masa lalu, biarpun itu adalah kenangan pahit tapi setidaknya aku mendapat pelajaran yang berharga darinya.

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. (Efesus 4:26)
       
          Inilah salah satu kebenaran dan hikmat yang perlu kita terapkan saat kita marah. How? Salah satu caranya adalah menjauhlah, pergilah tenangkan dirimu, atau lampiaskanlah pada hal-hal yang positif, jangan sampai kamu melakukan dosa saat amarahmu meledak-ledak, jangan pernah mengambil keputusan dahulu! Tunggulah sampai amarahmu mereda. Aku selalu mencoba melakukannya dan berhasil, tapi aku selalu dianggap kabur meninggalkan masalah oleh seseorang, hingga suatu saat emosiku tidak terkendali dan aku memutuskan untuk menyelesaikannya saat itu juga (di sinilah kesalahanku, aku meninggalkan hikmat dan mengikuti emosiku), dan berakhirlah kasus ini seperti pengakuanku di atas.

         Well, that's it, belajarlah dari pengalamanmu dan carilah komunitas yang baik untuk bisa saling menasihati dan menguatkan. Akhir kata, sekarang aku masih dalam penantian yang belum ada kabar, tapi kemarin (sampai tadi pagi) menyenangkan walaupun ngantuk wkwkkwkw... Biarlah semua berjalan sesuai dengan rencana-Nya deh. Jesus bless u all!!

This is my story, how about you?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar